Anakku usia 8 tahun menstruasi, amankah?

Menstruasi pertama.

Malam hari tanggal 10 Agustus 2021, Lova mendatangi saya dengan santai, kemudian berkata, “Ibu ada darah di celana dalam ku”.

Degh, berusaha tetap tenang lalu menuju kamar mandi dan melihat apa yang sudah disampaikan lova. Ya saya pastikan itu darah, mentruasi pertama (menarche), saya kaget apalagi mengingat Lova baru bulan depan menginjak usia 9 tahun. Baru akan saya siapkan presentasi menstruasi lebih detail, ya Allah gimana ini?

Self talk saya rame seperti negosiasi dalam pasar, ya Allah anak sekecil ini haruskah menanggung dosanya sendiri karena baligh, ya Allah apa iya ini menarche, apa bukan penyakit, ya Allah apa yang harus kulakukan, ya Allah aku sedih, aku bingung ya Allah.

Saya self distance, lebih tenang, kemudian mengucap kalimat syukur yang sudah saya latihkan tiga hari sebelumnya setelah belajar dari kelas Temu Alumni Enlightening Parenting.

Saya sejajarkan wajah lalu berkata:

“Alhamdulillah adek Lova menstruasi, Insya Allah ini tanda Lova sehat dan menjadi manusia seutuhnya ya dek.”

Kemudian saya peluk Lova di kamar mandi.


Dengan self talk yang masih lumayan rame, saya membantu mengarahkan Lova bagaimana menggunakan pembalut, mencuci celana dalam, membersihkan darahnya, dsb.

Segera saya beritahukan Abi dan kakak yang menunggu di luar bahwa “Lova sudah menstruasi dan baligh.” Kami semua memberi selamat dan mendoakan.

Alhamdulillah beberapa materi menstruasi, mimpi basah, dan baligh sudah sempat tersampaikan, tinggal menambah detailnya, karena saya tidak menyangka menarche Lova secepat ini.

Saya mencari berbagai informasi terkait menarche di usia 8 tahun, meski sudah sering mendengar banyak anak di usia ini menstruasi. Membaca berbagai opini, maupun penjelasan dari website IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), bertanya ke dokter anak langganan, ke teman yang dokter dan sebagainya. Semua menyatakan normal, karena memang sudah banyak yang menarche di usia itu.

Ketika mempelajari fiqih dalam islam terkait berapa usia minimal menarche pada perempuan, ternyata 9th Hijriah, saya hitung usia Hijriah Lova 9 tahun 2 bulan. Cukup menenangkan Alhamdulillah.

Saya putuskan fokus mendampingi Lova melalui menarche-nya dulu, karena darahnya banyak, saking banyaknya, setiap 4 jam tembus ke celana terluar, bahkan sempat di kasur saat tidur. Lova nggak nyaman hingga males pipis, minum, dan jalan. Alhamdulillah saya tetap bisa berperilaku sabar memahami kondisi Lova.

Ya Allah saya nggak tega melihat Lova seperti itu, terucap dalam hati.

Saat itu saya sadari, mengelola emosi “nggak tega dan kasihan ke anak” begitu challenging. Alhamdulillah #startsyukur dapet kesempatan latihan dan Insya Allah berpeluang pahala

Sering melakukan self distance dan break state di berbagai kesempatan mendampingi Lova. Setiap hadir emosi sedih berlebih, langsung pilih action untuk berdoa sehingga emosi lebih netral.

Alhamdulillah dengan sering netralnya emosi di depan Lova, maka Lova juga makin enjoy menghadapi menarche-nya.

Hari ke 2 saya belikan banyak model pembalut, hingga Lova memilih dan piawai menggunakannya, mencuci, serta semua tata laksana di kamar mandi aman. Lova juga sampaikan kalau ini semua “mudah aja”, tentu saya apresiasi. “Memang Allah sudah mengukur kemampuan Lova, dan Lova memang mampu” Alhamdulillah.

Hari ke 3 dan seterusnya Lova sudah normal lagi minumnya, mulai lebih santai jalannya, darah masih banyak, masih tembus beberapa kali, Alhamdulillah.
Terus belajar, membaca banyak artikel dan jurnal, berdiskusi dengan banyak pihak kemudian mendapatkan panduan ini di website IDAI.

Sampai saat ini saya kira menarche ini normal. Ternyata kemudian sadar bahwa saya salah persepsi pada bagian kata “pubertas”, karena menstruasi malah akhir pubertas perempuan, bukan awal seperti yang saya kira.

Untuk informasi, menstruasi bukanlah tanda awal pubertas. Awal pubertas dimulai dari perkembangan minimal 1 dari 3 seks sekunder yaitu payudara, bulu pubis di area kemaluan (bulunya lebih halus, berbeda dengan wanita dewasa), bulu ketiak atau bau badan yang menyengat sebelum usia 8 tahun. Apabila ini terjadi, segera ke dokter. Karena disebut normal ketika hal tersebut terjadi usia 8 tahun, lalu menstruasi terjadi usia 11 tahun. Menurut dokter, menarche usia 10.5 tahun mungkin termasuk early pubertas.

Masih merasa perlu memastikan lagi, saya mencari informasi tentang siapakah ahlinya terkait ini. Maka saya memutuskan akan menemui dokter anak sub spesialis endokrinologi. Endokrinologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari sistem endokrin, sistem endokrin merupakan suatu sistem dimana hormon-hormon diproduksi dan diatur oleh organ dan kelenjar. Serta bertemu dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi sering disebut juga dokter obgyn atau dokter kandungan (SPOG).

Dokter Anak Endokrinologi Pertama

Hari ke 4, kami menemui dokter endokrinologi anak dan SPOG, saat inilah jantung berdegup kencang, Insya Allah tanda jantung sehat #startsyukur.

Di tempat dokter endokrinologi, bertanyalah saya,

“Dok, anak saya menarche, usianya bulan depan 9 tahun, apakah normal?”

Dokter: Ya nggak normal Bu

Kaget, apalagi Lova di sebelah saya. “Saya nggak suka cara dokter ini” bunyi self talk saat itu. Kemudian saya senyum dulu menetralkan emosi

Tanner stages (tanda perkembangan seks sekunder) Lova dicek. Saat itu, tidak BRP ke Lova tentang cek badan, Alhamdulillah sudah sampaikan what if bahwa hal-hal yang belum ibu jelaskan, akan mengikuti arahan dokter. Saya segera meminta ijin Lova ketika suster akan cek badan.

Diagnosa dokter untuk tanner stages Lova, payudara level 4, rambut pubis level 3, dan rambut ketiak level 1.

Saya belum benar-benar paham

Masih mencerna, banyak dan cepat sekali informasi dari dokter termasuk berbagai konsekuensi yang mungkin timbul.

Dengan masih kurang nyaman, saya hanya mengumpulkan kata kunci dari dokter, “tanner stages”, “Pubertas prekoks”, “MRI karena kemungkinan tumor di otak 5%”. Noted, sampai rumah saya akan cek.

Saya pulang dengan berbagai rujukan tes lab hormon, usia tulang, serta resep suntikan dimana dokter berpesan “harga obat ini mahal ya Bu”

Selesai sudah, setelah menetralkan emosi di mobil.

Segera bertanya “adek nggakpapa kan?.”

Lova: nggakpapa Bu

Alhamdulillah Oke dek, kita akan upaya cari dokter lagi ya, supaya kita tahu betul kondisi adek dan apa yang perlu kita lakukan.

Lova: Ok Bu.

Alhamdulillah.

Tiba di dokter SPOG, saat di USG, betul ovarium sudah terbentuk, darahnya berpotensi banyak, dan semua normal, artinya tidak ada tumor atau terlihat gangguan pada ovarium. Alhamdulillah

Mendengar cerita dan resep dari dokter endokrinologi anak sebelumnya, dokter SPOG memberi saran sebaiknya menunggu perkembangan menstruasi Lova tiga bulan baru melakukan beberapa tes dan suntik hormon sesuai resep dokter endokrinologi. Dokter juga menyampaikan bahwa memang ini normal dan udah banyak anak usia ini menstruasi.

Saya Kembali diskusi dengan dokter anak langganan melalui WhatsApp. Saya ceritakan apa kata dokter endokrinologi dan SPOG, termasuk tanner stages Lova.

Beliau yang sebelumnya meyakini menarche Lova adalah normal, berubah menyatakan bahwa kemungkinan tidak normal dengan tanner stages level tersebut di usia Lova. Lalu dari beliau saya mendapat info dokter endokrinologi anak lain, karena saya ingin punya second opinion.

Mulai mencari berbagai info, sempat juga ke dokter umum keluarga tetap normal menurut beliau, kecuali kalau lebih dari 10 hari. Lova menarche total 13 hari.

Apa sih Tanner Stages?

Skala dan tahap perkembangan seks sekunder (payudara, bulu pubis, bulu ketiak, bentuk kemaluan laki-laki)

Tahapan Tanner Stages

Silakan browsing dengan kata “Disorders of Puberty AAFP” untuk gambar lebih jelas

Jika perubahan seks sekunder terjadi sebelum usia 8 tahun untuk perempuan dan usia 9 tahun untuk laki-laki, sebaiknya konsultasikan ke dokter spesialis anak endokrinologi. Karena yang bisa mendiagnosa tanner stages juga dokter

Teringat Lova mulai berkembang payudara sekitar usia 6 atau 7 tahun. Saat itu saya belum tahu ini tanda Pubertas Prekoks. Alhamdulillah sekarang tahu, sehingga bisa berbagi info pentingnya orangtua lain tahu.

Pubertas Prekoks

Disebut dini karena pubertas yang diawali tanda berkembangnya seks sekunder sebaiknya tidak terjadi sebelum 8 tahun untuk perempuan dan 9 tahun untuk laki-laki. Normalnya mulai awal pubertas hingga Mimpi basah atau Mentruasi berjarak 2-3th. Lova usia 8 menarche, artinya kemungkinan perkembangan seks sekunder sejak usia 5 atau 6 tahun.

Penyebab pubertas prekoks pada 95% anak tidak diketahui. 5% lagi karena terdapat tumor di otak bagian kelenjar hipofisis. Tumor pada Hipofisis inilah yang berpotensi meningkatkan atau menekan produksi berbagai hormon, baik hormon kesuburan, pertumbuhan, tiroid, dsb.

Bismillah dengan banyak informasi baru, saya lebih siap untuk diagnosa hari esok. Nggak normal maupun normal Alhamdulillah. Karena sejatinya semua normal menurut Allah. Manusia menganggap sesuatu tidak normal biasanya hanya karena secara data yang mengalami lebih sedikit.

Dokter Anak Endokrinologi Kedua

Telemedicine pagi hari itu, dokter endokrinologi anak kali ini juga langsung berkata menarche usia Lova tidak normal dan disebut Pubertas Prekoks.

Alhamdulillah, mendapat penjelasan yang mencerahkan, apa kemungkinan penyebabnya, berbagai konsekuensi ketika tidak diobati, serta tata laksana penegakan diagnose serta pengobatannya. Kami menerima dengan lapang dada bahwa menarche ini adalah Pubertas Prekoks dan akan mengikuti saran beliau sebagai ahlinya. Banyak tes yang perlu dilalui Lova sebagai tata laksana penegakan diagnosa setelah ini, bismillah.

Setelah dokter kedua menjelaskan berbagai hal tentang Pubertas Prekoks (bisa baca sendiri di artikel/ jurnal ya), sore itu kami dirujuk tes hormon melalui pengambilan darah. Segera saya siapkan Lova, Alhamdulillah sudah beberapa kali Lova ambil darah dan tidak ada masalah. Maka saya tinggal refresh BRP, dan Lancar #autosyukur.

Hari yang sama kami sudah merencanakan syukuran, nasi kuning Empal untuk bersyukur khatam Qur’an ZamZel dan baligh Lova siap dibagikan. Seketika kami mengubah penulisan “Aqil baligh Lova” menjadi ‘kesehatan Lova” karena baru tahu dari dokter bahwa kemungkinan ini bukan Aqil baligh. Memohon doa ke banyak orang.

Khusus Surabaya sekitarnya, nggak perlu sungkan kalau pesan nasi empal ZamZeLova. Hahaha

Buat saya, doa adalah salah satu hal yang menenangkan, karena berharap ke Allah juga paling menjanjikan. Alhamdulillah punya Allah yang Maha Menyembuhkan, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Terima kasih atas semua doa untuk kami, Insya Allah doa baik kembali ke yang mendoakan.

Mohon doa, semoga Lova selalu diberi kesehatan dan nyaman menghadapi kondisi ini, serta semoga sehat selalu untuk kita semua. Aamiin.

Tiga hari kemudian, kami bertatap muka dengan dokter, karena masih pandemi ya tentu antigen dulu, Lova yang sudah pernah PCR jadi mudah saat antigen Alhamdulillah.

Hari itu Lova di suntik untuk melanjutkan skrining hormonnya.

Dengan hasil tes darah kedua, tegak sudah bahwa Lova mengalami Pubertas Prekoks Central, Alhamdulillah. Selanjutnya perlu tes usia tulang kemudian MRI. Dengan tegaknya diagnosa ini, dokter menginformasikan bahwa Lova perlu disuntik setiap bulan untuk menahan hormon pubertasnya. Sampai berapa lama? sampai mengejar usia tulang Lova. Bismillah, “Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.”

Dokter menjelaskan, bahwa baru ada jurnal internasional terkait Pubertas Prekoks yang meningkat semenjak pandemi, prediksinya bisa karena anak stress di rumah, atau ya efek mutasi virus covid. Masih perlu diteliti lagi. Insya Allah Lova nggak termasuk anak yang strees, karena Lova malah lebih seneng selama di rumah saja, Alhamdulillah.

Sebagai orang tua, kami perlu tahu betul keputusan langkah kami dan dampak yang mungkin timbul. Maka, bertanya konsekuensi apa saja jika kami tidak memilih Lova di suntik dan ditahan hormonnya, toh di islam Lova sudah 9 tahun hijriah.

Konsekuensi

  • Tinggi badan
    Lova tidak optimal. Pada laki-laki pertumbuhan pesat puber, baru dimulai setelah mimpi basah. Sedangkan perempuan sebelum menarche, dan saat menarche malah pertumbuhan mulai berhenti.
    Saya nggak terlalu masalah dengan tinggi badan, karena Insya Allah nggak menjadi penghalang seseorang masuk surga.
  • Lova sudah bisa hamil
    Self talk: “Alhamdulillah artinya Lova normal.”
  • Monopause Dini sekitar usia 40 tahun
    Ooow, dengan terbatasnya pemahaman saya, tetap menyadari ini sepertinya berpotensi jadi masalah kelak.
  • Problem perilaku
    Lova mulai tertarik dengan lawan jenis, dimana secara kognisi dia bisa-bisa dia belum mampu mengontrol hal ini. Dokter menyampaikan banyak terjadi kehamilan usia dini pada pubertas prekoks.

Astaghfirullah, langsung recall beberapa hal terkait emosi dan perilaku Lova yang sempat membuat bertanya-tanya beberapa tahun terakhir. Letupan perubahan emosinya juga kadang terasa tidak biasa.

Beberapa hal lain terkait perilaku Lova saya konsultasikan ke dokter. Menurut dokter, bisa jadi itu karena tidak balancenya antara hormon, kognisi, serta perkembangan fisiknya.

Mulai memahami pentingnya menahan hormon untuk pengobatan Pubertas Prekoks

Baiklah terasa titik terang, menghitung kebutuhan budget tes selanjutnya hingga MRI, biaya suntik tiap bulan, biaya dokter, dan berbagai kemungkinan lainnya. Insya Allah tidak mengurangi keyakinan saya bahwa rejeki dijamin Allah, dan sangat yakin akan diberi kemampuan sepenuhnya terkait tugas ini.

Surat Al-Baqarah ayat 286

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

Bismillah pasti sanggup, karena Allah yang memberi kesanggupan.

Saya selalu reframing hal seperti ini cuman sebagai tugas atau assignment dari Allah. Tidak memilih kata “Cobaan” “Ujian” “masalah” “Badai” dsb.

Buat saya, kata “Tugas” lebih berefek ringan dan semangat. Ketika saya maknai Ujian saya merasa berat dan ada rasa khawatir berlebih hasilnya jelek, mungkin karena pengalaman saya menghadapi ujian-ujian jaman sekolah kurang bagus nilainya yaa. Please nggak usah nanya hasil ujian nasional saya yaa, hahahaha.

Alhamdulillah sebulan bolak balik RS dan kami diberi Allah banyak kemudahan #autosyukur.

Biaya pemeriksaan Lova yang menghabiskan kuota rawat jalan dari kantor suami, dan agak mengurangi tabungan yang menipis sejak pandemi membuat kami makin kuat berdoa agar dimudahkan Allah berikhtiar. Kadang beginilah mungkin cara Allah mendekatkan hamba ke Rabbnya, Alhamdulillah.

Dulu saya pernah merasakan saldo di rekening kurang dari 50 ribu, sampe harus ditransfer sama teman supaya bisa ditarik 50 ribu baru dibagi, hahaha siapa yang pernah strategis begini ngacung? hari ini saya baik-baik aja, ya Insya Allah next juga baik-baik saja, apalagi saldo sekarang lebih dari itu, bismillah, ada beras, mie instan dan Allah selalu bersama kami.

Menggunakan BPJS

Alhamdulillah mendapat banyak informasi dari teman-teman dokter dan HR (divisi sumber daya manusia) kantor suami bahwa kondisi Pubertas Prekoks ini dijamin BPJS.

Sebenarnya bertahun-tahun kami niatkan BPJS yang dipotongkan dari pendapatan suami hanya untuk gotong royong dan Insya Allah tolong menolong, belum pernah berencana menggunakannya. Apalagi kebayang narasi dari berbagai media tentang keribetan pemakaiannya, pengalaman saat kecil pernah pakai Askes yang ribet mencuat di pikiran bak notifikasi orderan empal.

Lumayan bingung, dengan pertimbangan sedang pandemi, kami merasa perlu berjaga-jaga untuk penggunaan tabungan pada hal yang lebih prioritas, termasuk menyiapkan dana perawatan kondisi gigi ZamZel (bisa dibaca di Instagram @zamzelova tentang variasi genetik ZamZeLova).

Mendapat masukan juga ketika dengan BPJS di RSUD Sutomo akan bertemu dokter-dokter ahli bidang ini yang sudah menangani berbagai kasus serupa. Terapi suntik hormon ini kemungkinan selama lebih dari 2 tahun bahkan bisa lebih karena hasil usia tulang Lova kisaran 11-12 tahun. Maka, akhirnya memutuskan untuk menggunakan BPJS. Bismillahirrohmanirrohim, mungkin inilah jalan rejeki kami daripada minta-minta, wallahualam.

-Kami sudah mempelajari beberapa pendapat ulama dalam hal asuransi dan sudah memutuskan mengikuti yang mana, apabila ada yang tidak sama dalam hal ini, Insya Allah masih banyak persamaan kita seperti sama-sama manusia, WNI, sholat menghadap kiblat, minum air, dsb. Jadi yuk mari lebih banyak fokus pada persamaan yang jauh lebih banyak ya kaaan, sungkem muah

Segera saya menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan, berangkat mulai dari puskesmas, RS terdekat, kemudian RSUD Sutomo, Alhamdulillah semua dimudahkan Allah. Benar-benar jauh lebih mudah dari bayangan kerumitan di kepala saya saat Askes, terimakasih untuk seluruh orang-orang dibalik kemudahan BPJS, peluk cium kecuali yang laki-laki ya, bukan muhrim.

Saat itu juga memiliki tambahan frame baru “ternyata kalau sabar dan syukur dengan bagaimana prosedur yang mungkin saya rasa berbelit-belit awalnya, eh malah dimudahkan Allah sisanya” Masya Allah janji Allah mmg luar biasa, banyak sekali kemudahan yang benar-benar saya alami, sehingga hanya setengah hari saja langsung mendapat rujukan dan bisa bertemu dengan dokter endokrinologi anak di RSUD Sutomo.

RSUD Sutomo

Waktu menunjukkan pukul 6 pagi dan mobil kami sudah meluncur menuju RSUD Sutomo. Berbagai BRP ke Lova telah dilakukan, tidak cukup tahu pemeriksaan apa saja yang akan dihadapi Lova, tidak bisa bertanya ke dokter-dokter disana, maka saya briefing lova dengan berbagai if condition, parental coaching, dan bahasa persuasif yang saya pelajari di Enlightening Parenting, contohnya:

“Besok kita akan ikutin petunjuk dokter disana ya dek, karena dokter adalah ahlinya dalam hal ini.”

“Selama proses pemeriksaan, maka kamu akan selalu sama Ibu, jadi dokter akan ngomongnya ke Ibu, baru Ibu sampaikan ke adek.”

“kalau adek merasa nggak nyaman, adek mau melakukan apa?”

“kalau adek ada merasa keberatan dengan pemeriksaan dokter, adek tinggal towel-towel ibu, gimana menurut adek?”

“Misal nih, adek haus dan pengen minum, nanti adek bilang ibu, lalu kita akan cari tempat terbuka yang jauh dari orang lain, baru deh buka masker, trus minum ya, bisa?”

“Dek, Sepertinya ada beberapa pemeriksaan yang membutuhkan antigen, nah nanti adek kalau pas antigen mau ditemenin ibu atau abi?”

“Andai nih, kita diminta ambil darah, atau suntik lagi seperti pemeriksaan kemarin itu, adek pasti udah aman dan lancar seperti kemarin kan?”

“Semakin kita ngikutin arahan dokter dan seluruh petugas RS, semakin mudah dan cepat pemeriksaan kita Insya Allah dek, karena kalau udah jelas semua diagnosa dokter sebagai ahli, maka akan jelas apa langkah-langkah yang kita bisa lakukan sama-sama dek.”

(PR: alumni EP, boleh sambil buka catatan yaa, ini masuk bahasa persuasif yang mana, alumni TBS bisa cek DDGnya, hahaha cemungut kakak)

Sebenarnya banyak sekali install belief yang saya lakukan ke Lova setiap malam selama proses pemeriksaan, karena dalam belajar Homeshcooling saya memahami bahwa untuk anak mencapai pemahaman tertentu perlu melalui lapis demi lapis (kenapa langsung terbayang kue lapis yak!), misalnya untuk memahami keseluruhan kalimat, anak perlu paham setiap kata dan huruf didalamnya terlebih dulu.

Maka saya banyak meng-install menggunakan metode story telling berbagai hikmah misalnya melalui shirah Nabi Muhammad, Nabi Ayub, Nabi Musa serta pengalaman saya atau handai taulan dalam menghadapi sakit dan segala proses pemeriksaan di RS, memahami kematian, sembuh itu pasti tinggal sembuhnya menginjak bumi atau kembali ke Allah, serta yakin bahwa rahmat Allah pasti datang bahkan ketika upaya kita tidak cukup menjemputnya, maka tugas manusia adalah berupaya optimal dan tidak boleh berputus asa. Bab frame dan install value yang saya lakukan ke Lova Insya Allah akan saya tuliskan terpisah.

Alhamdulillah saat kecil saya juga rutin memeriksakan diri di RS karena alergi, gigi, dan urusan THT yang bertahun-tahun tanpa kejelasan bisa sembuh. Masya Allah ya, disini terlihat jelas bagaimana Allah menyiapkan saya menghadapi kejadian saat ini sejak puluhan tahun lalu. Yes ya Allah, saya hanya perlu mengambil hikmah, Alhamdulillah #autosyukur.

Proses di RSUD Sutomo setelah bertemu dokter, lanjut mengikuti proses untuk MRI, dokter sempat menyampaikan bisa saja MRI nggak langsung sekarang, boleh beberapa bulan setelah terapi. Tapi kami ingin tahu jelas apakah penyebab menstruasi Lova ini, apakah memang ada tumor, atau tidak, agar makin tepat juga terapinya. MRI merupakan tatalaksana untuk menentukan penyebab prekoks, sehingga terapinya akan lebih tepat.

Magnetic resonance imaging (MRI)

Lova melakukan beberapa prosedur sebagai syarat sebelum MRI. Tes darah untuk creatin (ginjal), dan konsultasi Anastesi persiapan bius saat MRI.

Sebenarnya kami berencana MRI tanpa anastesi, karena saya cukup yakin bahwa Lova mampu menjalankan prosedur MRI. Nah, saran dokter tetap meminta siapkan anastesi, karena berdasarkan pengalaman beberapa anak di pertengahan proses MRI mengalami panik, padahal kalau gerak-gerak bisa berpengaruh pada hasil, dan malah harus mengulang MRInya (artinya ngulang antri lagi, adminsistrasi lagi sejak awal, ampun deh yaakan). Maka, mengikuti saran ahli saja pakai anastesi.

Dalam proses administrasi beberapa kali antri berjam-jam, agak muter-muter karena saya juga kurang paham prosesnya dan kurang pengalaman, belum juga perdebatan dua dokter tentang apakah perlu anastesi atau tidak, Alhamdulillah setelah bolak balik dan merasa kerepotan, saya tetap niatkan mengikuti prosesnya dengan sabar-syukur, maka diminta balik ke pos sebelumnya manut, diminta ngulang dokumen manut, pindah gedung ayok, meskipun itu kesalahan tim RS ya manut.

Proses bersabar dengan hal-hal administrasi dan kekeliruan pihak lain begini cukup challenging buat saya, dulu saya selalu (beneran selalu) memilih bersikap agresif hingga teriak-teriak dan gebrak meja ketika ada kekeliruan petugas pelayanan dimanapun. Sekarang sering asertif, tapi saat di RS ini karena belum terlalu paham, jadi hanya berusaha memahami instruksi dan melakukannya, serta niat memudahkan orang lain.

Alhamdulillah lagi-lagi Allah Maha baik, baiiiiik sangaaat, saya diberi kemudahan setelah 6 jam lebih tidak makan minum karena tidak memungkinkan buka masker di area itu, wira-wiri (salam kbbi! setelah cek ternyata ini kata yang tepat, hahahaha), lelah dan bingung. Kemudian, jeng jeng jeng, pergantian shift petugas RS, dan saya dilayani rekan kerja saya jaman kerja sambil kuliah di DetEksi Jawa Pos, Alhamdulillah beneran sujud syukur, karena semua jelas terang benderang setelahnya, saya perlu ngapain, menyiapkan dokumen apa, ke loket mana, datang jam berapa, bahkan memakai baju apa. Sungguh rahmat Allah begitu dekat dengan saya Alhamdulillah. Terima kasih Dessy (Cici) sending my loves for you.

Proses konseling anastesi, pengambilan darah, alhamdulillah lancar. Tinggal MRI esok hari.

Serangkain Briefing role play terkait MRI sudah saya lakukan sejak dokter bilang perlu MRI satu minggu sebelumnya. Saya juga seumur hidup tidak pernah MRI, keluarga terdekat juga tidak ada yang pernah, maka Alhamdulillah saya mendapat rekaman suara alat MRI yang bunyinya tet tet tet cukup keras ketika sempat menelpon beberapa RS untuk menanyakan biaya MRI. Saya juga mendapat beberapa video di Youtube, menunjukkannya ke Lova, dan kemudian role play Juga mengajarkan Lova mengurangi suara dalam pikirannya dengan teknik Edit VAK yang saya pelajari di Enlightening Parenting.

Karena bener-bener nggak boleh gerak, maka saya role play Lova di kasur tidak bergerak sama sekali beberapa menit. Kemudian latihan lagi sampai 5 menit, lalu saya sampaikan perlu sekitar 10x lipatnya selama di MRI, saya ajarkan juga 1 jam itu rasanya gimana, seperti saat kelas zoom dengan gurunya, dan dia menyanggupi untuk tidak pakai bius. Meskipun begitu, saya tetap what if kalau adek merasa nggak nyaman, ibu ada disana di sebelah adek, dan akan terus pegang kaki adek, kapanpun adek memutuskan anastesi, anastesinya siap.

Kuncinya adalah saya yang harus selesai emosi, saya relaks dalam BRP, anak akan ikut relaks, gampil.

Selalu saya sampaikan ke Lova bahwa pengalaman pemeriksaan kesehatan Lova itu bahkan lebih banyak daripada ibu dan setiap orang di rumah, dan adek always did a great jobs every single time (yang jago bahasa inggris, bisa tolong cek ini udah bener belum ya)

Hari MRI tiba juga, berbagai prosedur sebelum MRI sudah kami jalani, wawancara terkait ada alergi atau tidak, penjelasan proses, bagaimana proses MRI serta penyuntikan kontras yang punya potensi risiko, serta menandatangani beberapa dokumen, dll.

FYI saat MRI tidak boleh membawa benda-benda mengandung magnet, besi, dll, sehingga HP serta semua barang-barang harus ditinggal diluar. Alhamdulillah teman saya sudah menjelaskan cukup detail tentang prosedur di MRI, sehingga saya sudah menyiapkan buku bacaan untuk mendampingi Lova selama satu jam.

Sebelum mulai, kami berdoa terlebih dahulu supaya Allah mudahkan prosesnya dan mendapat hasil terbaik. Kemudian Lova mulai membaringkan badannya di alat MRI, Alhamdulillah saya juga cukup tenang, sedari awal saya tidak melihat proses MRI menyeramkan karena memang saya yakin adek Lova adalah anak yang berani dengan hal-hal seperti ini selama paham proses dan keperluannya, yang saya lebih khawatirkan adalah hasilnya.

Proses MRI

Dua tahap proses MRI, tahapan awal 25 menit selesai sudah, Alhamdulillah Lova maju tak gentar, dan santai dengan suara alat yang bener-bener berisiiiikk, TEEET TEEET TEEET bukan seperti terompet tahun baruan, bukan bel truk, bukan telolet, lebih nggak enak, entah sulit menggambarkannya dan rekaman suaranya hilang bersamaan dengan hp saya rusak, jadi mohon maaf belum bisa melampirkan.

Alhamduillah disiapkan suara musik yang bisa didengarkan Lova dan saya di ruangan. Beberapa perawat memasuki ruangan dan menjelaskan akan mulai memasukkan cairan kontras untuk tahap kedua, baik bismillah, sekaligus saya memutuskan tidak menggunakan anastesi meski dokter anastesi menganjurkan. Kenapa? karena setelah saya apresiasi Lova di tahap pertama, saya bertanya ke Lova bagaimana perasaannya, dia nyaman aja lalu dia memutuskan bisa melakukaannya lagi sama persis, jadi ngapain perlu anastesi.

Alhamdulillah tahap kedua MRI dengan cairan kontras juga lancar, Lova benar-benar tenang dan santai meski dia bilang tidak enak karena diminta diam dalam waktu lama.

Bagian lucu diakhir MRI, petugas MRI baru sadar kalau lupa memberikan pinjaman headphone musik untuk penunggu a.k.a saya Fira Mahda, lalu saya ditanya “ibu nggak gerebekan tadi?”

Self talk saya: “boleh nggak anda saya kaplok“. Hahahaha Alhamdulillah self talk macam itu hanya candaan belaka, lalu saya bilang ke petugasnya, “iya gerebekan mas.” Alhamdulillahnya saya punya kemampuan edit VAK jadi bisa ngecilin suara di pikiran. Gampang lah, lagian suara MRI sepertinya lebih bisa dinikmati daripada saya mendengar suara diri sendiri nyanyi di kamar mandi Hahaha.

Baru tahu beberapa minggu kemudian bahkan banyak orang dewasa yang panic attack saat MRI. Fiuuh luar biasa ya Lova bisa se tenang itu. Alhamdulillah.

Kami pulang, dan menunggu hasilnya tiga hari lagi.

Tiga hari yang tak biasa. Setiap hari saya menyiapkan diri sendiri, saya membaca berbagai jurnal tentang tumor hipofisis, dan berbagai pertanyaan saya lontarkan ke teman dan saudara berprofesi dokter, terima kasih supportnya semua yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, kuatir jadi seperti lembar persembahan skripsi. Sending my love for all your support. Terima kasih tidak pernah seperti Umi yang pura-pura tidur ketika saya banyak bertanya, hihihi.

Setelah saya cukup tenang, saya selalu mengagendakan install belief ke Lova tentang apapun hasilnya tetap normal menurut Allah dek, saya menjelaskan apa itu normal dan tidak normal menurut manusia, sesuatu dibilang normal itu biasanya karena banyak yang mirip atau sama, nggak normal karena sedikit yang mengalami. Kalau menurut Allah semua Insya Allah normal, Allah hanya membuat variasi aja dek. Coba bayangin kalau semua orang mukanya sama, apa enak?.

“Baju di lemari ibu aja bervariasi model dan warnanya, Allah juga suka keindahan kan, maka itulah salah satu caranya membuat variasi di dunia ini. Karena bunga yang berbeda-beda warna juga makin indah, Pelangi yang mejikuhibiniu juga lebih sedap dipandang mata. So, andai ada sesuatu yang biasanya disebut tumor di kepala adek ya bismillah tugas manusia tinggal ikhtiar optimal, malah enak lebih jelas dek. Kalau nggak ada apa-apa ya Alhamdulillah juga tinggal terapi pubertas prekoks aja.”

Sempat juga saya install dengan kalam Allah bahwa sedikit sekali manusia yang bersyukur.

“Ternyata ibu pikir-pikir bener juga ya dek, banyak orang tuh mudah mengeluh berlebihan tentang sakitnya, misal kena pisau pas masak, jarinya berdarah trus ngeluh banget-banget, lupa padahal dari 10 jari tangan cuman satu yang sakit, 9 nya sehat dan lupa disyukuri. Apalagi kalau melihat badan keseluruhan, sebenarnya manusia itu selalu bisa bersyukur, Alhamdulillah mata sehat, rambut ribuan helai sehat, jari kaki, tulang, sel darah, organ dalam baik baik saja. Maka kadang ibu tuh khawatir kalau mengeluh berlebihan dek. Ngomong aku sakit, nggak enak boleh lah untuk ekspresi, tapiii ibu harus tetap inget kalau lainnya baik-baik aja.”

“Bu Okina (founder Enlightening Parenting) juga pernah bilang dek, sebaiknya nggak ngomong “badanku sakit semua”, karena mostly hanya sebagian aja kan yang sakit, mari kita chunkdown apakah bener seluruh badan? Apa rambut juga? Wkwkwkw maka misalnya sakit di punggung kanan, ya sebut saja “punggung sebelah kananku sakit”, spesifik nggak generalisasi dek.”

Hasil MRI

Malam hari h-1 hasil MRI selesai, saya tidak bisa tidur, sungguh self talk saya ramai sekali. Saya yang sudah terbiasa mengenali berbagai self talk dan mendengarkannya baik-baik, merasa overwhelmed dan kurang bisa mengontrol dan mengenali, isinya mostly kepanikan, “aduh gimana kalau Lova tumor”, “aduh gimana kalau usianya tinggal sebentar”, “aduh gimana kalau ………….”, sungguh kebiasaan saya preventif dan bersiap dengan what if sempet eror malam itu.

Kemudian saya break state diri sendiri bangun dari tiduran dan minum air, saya dengarkan dan urai satu persatu self talk, saya acknowledge masing-masing kekhawatiran, saya reframe wajar saya khawatir ini anak saya, masa iya mau cuek bebek, kan saya manusia bukan bebek, nah sekarang action-nya yang paling penting mau melakukan apa.

Lalu saya membuat action yang WFO (well formed outcome) rencana action saya, saya role play diri sendiri. Besok setelah menerima hasil MRI, saya akan terima tanpa dibuka, jalan menuju mobil sambil dzikir, lalu sampai mobil baru buka hasil. Saat di mobil, andai hasilnya nggak tumor, maka saya akan bersyukur mengucap Alhamdulillah dan berdoa Alfatihah kemudian chat abi, lalu nyetir pulang.

Andai hasilnya ada tumor, saya akan menelpon Abi, menyampaikan ke Abi tentang tumor itu, nangis sedih kecewa marah boleh 5-10 menit cek waktu dulu, setelah itu saya akan minum dan self distance mengingat frame bahwa yang sudah terjadi hanyalah perlu #startsyukur jadi tahu dan jelas penyebabnya, lalu nyetir pulang, andai nggak sanggup nyetir pulang ya minta jemput Abi. Sampai rumah baru bekabar mengirimkan foto ke dokter Lova dan berbagai teman dokter tempat saya bercerita. Saya role play di pikiran saya semua step-nya.

Saya juga menjawab satu self talk saya tentang kalau lova meninggal gimana, walaupun kami di rumah berkali-kali bahas meninggal dengan santai. Sayangnya kondisi emosi memang membuat kurang berlogika. Lalu inget lagi pemahaman bahwa meninggal itu gak perlu sakit juga bisa meninggal, duduk manis juga tetiba bisa meninggal, jalan di trotoar bisa ditabrak truk dan meninggal. Jadi apa yang perlu saya khawatirkan? Lova meninggal Insya Allah masuk surga, khawatirku juga nggak mengubah jadwal meninggal Lova, bahkan jadwal meninggalku sendiri, jadi mending khawatir itu dibentukkan action untuk ikhtiar dan berdoa.

Saya bisa tidur nyenyak, Alhamdulillah.

Pagi harinya di Rumah sakit, semua role play dalam otak saya step by step saya lakukan semua, setelah menerima dan sampai mobil saya membuka dan membaca hasilnya, hasil foto seperti foto rontgen tentu saya gak cukup paham ya meski saya sempat melewati jaman megalitikum dimana orang-orang masih afdruk film dengan kamera jadul wkwkwk. Ini zaman apa sih sebutan tepatnya?

Saya membaca selembar kertas kesimpulan kata demi kata, tidak saya temukan huruf yang terbaca “tumor”. Alhamdulillah sujud syukur ya Allah, senangnya hatiikuuuu lalala lilili, lalu saya chat ke suami, “Alhamdulillah aman Abiku”. Lalu santai nyetir pulang ke rumah dengan hati berseri-seri, bak dimana-mana ada pelangi sungguh indah itu pagi.

Daaaan, jeng jeng jeng terekdungces di sinilah plot twist-nya dan letak kelucuan, keseruan, serta indahnya skenario Allah masya Allah, manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan, Thank you Allah, Alhamdulillah.

Sesampainya di rumah, masih di ruang tamu, saya keluarkan lagi lembar kesimpulan MRI untuk difoto, dan kirimkan ke dokter. Saat sedang memotret dan mengirimkan melalui chat ke beberapa dokter saya membaca catatan kaki kecil di sudut bawah laporan MRI tersebut

Bagian sudut paling bawah, sungguh perlu diatur ulang layout laporan ini menurut saya, hahaha.

Kesan

Heterogenous contrast enhancement dengan gambaran hypointense ukuran +/- 6,6×2,8mm di sisi kiri dapat merupakan gambaran microadenoma

Sungguh seketika saya ingin memberi masukan pembuat laporan untuk tidak membuat kesan sekecil itu padahal sangat peeentiiing, hahahah. Lukate buku kenangan pakai kesan pesan.

Makdeg, buru-buru mengambil hp, membuka google lalu ketik “microadenoma adalah” baris pertama google menunjukkan tumor hipofisis.

Mikroadenoma: tumor kelenjar hipofisis yang berukuran sangat kecil (diameter kurang dari 10 mm).

Ada yang pernah main roller coaster di Universal Studio jenis yang kakinya menggantung? inilah roller coaster paling seru sepanjang hidup saya, dan hari ini ketika membaca tulisan microadenoma adalah tumor hipofisis, ternyata saya merasakan SERU yang sama dengan naik roller coaster tersebut. Alhamdulillah

(btw saya pencinta main roller coaster ya, jadi ini tuh memang SERU bukan menakutkan apalagi menyedihkan, bukaaan Insya Allah)

Tangan saya gemetar, terasa sesak, dan berdebar di seluruh tubuh, ingin menangis, ingin teriak, sampai nggak ingin apa-apa, Alhamdulillah ingat self distance menggerakkan badan saya ke kanan melihat diri sendiri gemetar, bagian lain diri saya menasihati “Fira, kamu punya Allah, Innallaha ma ana dan Allah jauuuh jauuuuh lebih sayang ke Lova, ini tuh kasih sayang Allah”.

OK GO siap melesat keatas dengan kecepatan tinggi lagi, Alhamdulillah mulai tenang, makin tenang, jadi tenang, dan saya chat ke salah satu saudara yang dokter dan bertanya mikroadenoma itu tumor kan ya? “Iya” jawabnya. Tiga huruf yang bak terjun di roller coaster lagi, syuuuuuuttt, AAAAAAAAAAAAAAAA. Tenang lagi, Innallaha ma ana.

Kemudian saya memanggil suami di ruangan sebelah, dan menjelaskan saya telah salah membaca hasil MRInya, ternyata ada tumor, Alhamdulillah memang suami jagonya bersyukur dan tetap tenang dalam banyak kondisi. Emosi menular, suami tenang, saya tenang. Apalah artinya tidak tenang ketika tidak bisa mengubah hasil yang sudah di tangan. Apapun yang terjadi #startsyukur.

Suami segera menghubungi salah satu leader beliau, one of the best person that knowing about medical in Surabaya, dan mendapat rekomendasi untuk ke dokter bedah syaraf besok pagi, Baiklah, inhale exhale, sholat dulu, tenang dulu, sabar dulu, relaks dulu, dan acknowledge tiap perasaan, kemudian menyiapkan serangkaian pilihan kata paling relaks untuk ngobrol ke Lova.

Alhamdulillah saya #autosyukur banget-banget rencana Allah, saat saya sudah cukup piawai menyelesaikan emosi, cukup baik kedekatan dengan anak-anak, dapat assignment untuk meningkat lagi, menyelesaikan emosi di roller coaster. Oke bentar ijin saya nangis dulu ya hahahaha (sungguh tidak selaras mau nangis tapi ngetik “hahaha”)

Dan saya memaknai ini assignment, ini seru, dan Insya Allah jadi ladang pahala luar biasa Insya Allah, Aamiin.

Beberapa jam setelah itu ya Alhamdulillah saya udah mulai normal, bisa ngerasain makanan enak, cerita-cerita, balas WA, liatin instagram, BAK, dll, wooh jebule ya baik-baik aja, Matahari dan bumi juga masih berputar belum kiamat, hmm namanya apaya Rotasi atau Revolusi? suamiku help me! wkwkwkw.

Sore hari setelah anak-anak relaks siang dan Lova bersama kakaknya sedang asyik ngobrol sambil tiduran, saya ikut tiduran lalu nimbrung obrolan mereka sebentar (membangun kedekatan) kemudian saya sampaikan dengan santai “eh dek, hasil MRI sepertinya ada sesuatu di kepala adek, ya seperti yang ibu bilang waktu itu, memang ada kemungkinan ada sesuatu di kepala adek yang bikin adek mens, jadi besok kita cek ke dokter spesialis yang ahli ngurusin ini ya supaya lebih jelas” Lova juga dengan santai dan tiduran juga menjawab “oke, gpp”. Alhamdulillah lalu kami ngobrol santai seperti biasa.

Hari itu kami memanggil jasa antigen di rumah sebelum besok bertemu dokter, lagi-lagi saya menyiapkan lova dengan what if yang lebih umum.

“Dek, Ibu kan belum pernah ke dokter dan rumah sakit yang besok ini dek, jadi besok kita barengan ya cari tahunya, mungkin ibu akan agak bingung, mungkin juga kaget, nanti kita ngobrol sama-sama seperti biasa sama dokter”

“Nah dokternya ini juga kan ibu nggak tahu bakal gimana sikapnya ke kita, insya Allah gimanapun sikap dokternya ya kita tetap taat dan ikut aturan yaaa dek?”

Dokter Bedah Syaraf

Berdua dengan Lova menemui dokter bedah syaraf yang menurut banyak dokter beliau salah satu yang terbaik di Surabaya, Rumah sakit yang jelas jauh lebih bagus dari RSUD sutomo dan tampak masih sangat baru, mungkin hitungan bulan ketika masih tercium bau lem dari beberapa furniturenya (ini ngapain sih sempet-sempetnya bauin furniture, FIRAAAA).

Alhamdulillah RS yang tampak baik sudah membuat aura positif untuk kami berdua, receh tenan ya kami hahahaha, tapi saya kekepin dompet dalam hati, cek bagusee ini RSnya auto distorsi ke biayanya yang entahlah.

Kami ketemu dokter yang sudah terlihat kerutan wajahnya menampakkan kisaran usia beliau tetapi tidak redup sisa-sisa kegantengannya (udah kaya novel belum? Hahaha) Alhamdulillah kesan pertama dan kedua begitu menggoda, eh menenangkan maksudnya. (iki guyon lhoo, kalau ada yang kenal dokternya gak usah disalamkan, suamikuu sungkem sek ya)

Dokternya alhamdulillah super duper ramah, kami dapat kuliah dua sks pembelajaran tentang otak, tumor hipofisis, apa saja yang mungkin terjadi, namun dengan menyenangkan. SERU!

Dari situ kami dirujuk untuk tes lapang pandang mata karena letak tumornya yang tetanggaan dengan syaraf mata. Maka saya menghubungi dokter mata tempat Lova berobat lazy eyes. Alhamdulillah dokter matanya juga sangat baik.

Tes lapang pandang mata dan MRI kedua

Ini bukan alat tes lapang pandang ya, karena alat tes lapang pandang ada dalam ruangan dan tidak boleh difoto.

Ya Allah Lova sungguh ibumu ini berkacamata sejak SMP tapi tak sekalipun ibu pernah tahu ada tes seperti itu. Lova dicek apakah ketika fokus melihat lurus, dia tetap mampu melihat objek-objek di sekitar kanan dan kiri. Alhamdulillah hasilnya sangat baik

Lalu kami juga diminta MRI lagi dengan alat MRI yang lebih canggih dan detail serta dengan dokter khusus yang memang ahli membaca hasil MRI dengan mikroadenoma, sungguh aku tak tau bagaimana menjelaskan kenapa ini perlu sebelum memutuskan apakah akan ada tindakan bedah atau tidak, yang jelas butuh lebih detail info posisi dan ukurannya si tumor, saya hanya bertekad melakukan upaya yang terbaik.

MRI kedua dan kesimpulan akhir

Hi My Name is Lova, nice to meet you all, mohon doanya untuk kesembuhanku yaa.

Kami MRI kedua di tempat yang tidak menyediakan anastesi, maka ya lancar seperti sebelumnya, yang jelas alat yang lebih canggih suaranya lebih keras, alhamdulillah petugasnya nggak lupa meminjamkan saya headphone dan bisa request musik. Karena sempat sebelumnya dapat musik dangdut, bukannya apa ya, saya tuh cuman khawatir auto joged kalau denger dangdut is the music of my country. Ini serius, nggak sedang canda.

Hasilnya butuh dua-tiga hari, tetapi saya sempat nanya ke petugas MRI setelah selesai, apakah benar terlihat mikroadenomanya. Katanya terlihat, mungkin seperti petugas bagian ngecek hilal sebelum awal ramadhan yaa.

Dua hari kemudian hasil kesimpulan MRI kedua sudah ada dan kami kembali ke dokter bedah syaraf untuk konsultasi bersama juga hasil tes matanya, dari semua klinis Lova Alhamdulillah tumor Lova dinyatakan jinak-jinak merpati, malah beberapa dokter juga menyampaikan ini super jinak, dan efeknya hanya fungsional yang artinya hanya mempengaruhi hormon pubertasnya.

Maka, langkah selanjutnya adalah terapi hormon untuk pubertas prekoksnya, dan setiap 6 bulan cek lapang pandang mata memastikan tumor tidak membesar dan mengganggu syaraf mata. Dokter juga menyarankan untuk mengecek hormon lain namun setelah kembali ke RSUD sutomo dengan dokter endokrinologi anak, ternyata klinis Lova tidak mengarah ada gangguan pada hormon lain jadi tidak perlu tes-tes lagi.  

Apakah ada kemungkinan tumor ini membesar? mungkin saja, kemungkinan yang sama dengan tumor ini bisa menghilang dan sembuh paripurna, tetap perlu berhati-hati, tapi tumor ini super jinak, mohon doanya semoga tumornya tidak membesar bahkan bisa hilang dengan adanya terapi hormon ini, Aamiin.

Alhamdulillah hingga saat ini sudah 8x Lova disuntik terapi hormon dan tidak ada masalah berarti, selain tentang antrian di RSUD Sutomo yang bisa sangat panjang ketika datang diatas jam 7 pagi.

Setelah suntik pertama, menstruasi Lova sudah berhenti total hingga saat ini, dan tanner stages yaitu pertumbuhan payudara dan bulu pubis kembali sesuai dengan usianya. Pertumbuhan tinggi badan rata-ratanya perbulan hampir 1cm Alhamdulillah.

Suntik ini rencananya dilakukan hingga usia 11.5 atau 12 tahun tergantung kondisi klinis nantinya, tapi suntiknya yang ditanggung BPJS hanya yang dosis bulanan, tidak ada yg tiga bulanan. Enaknya ya tiap bulan terkontrol kondisi tanner stages dan apabila ada keluhan bisa diskusi dengan dokter setiap bulan, kurang enaknya ya bolak balik ditusuk jarum suntik dan tiap bulan harus kosongkan jadwal setengah hari untuk ke RSUD Sutomo. Insya Allah setiap upaya ini berpahala dan membawa kami ke surganya Allah, Aamiin.

Selain itu ikhtiar kami yang lain adalah berusaha makan gizi seimbang sesuai saran kemenkes dan mengurangi konsumsi gula tambahan dengan jumlah sesuai saran dokter. Dokter juga menyarankan konsumsi vitamin D karena hasil tes darah Lova defisiensi vitamin D.

Untuk ikhtiar dalam jalur alternatif, herbal, jazz, pop rock, eh kok jadi musik yaa. Hahaha. Kami memutuskan hanya mengikuti jalur medis yang evidence based bukan testimony based atau masih jalur yang dianggap pseudoscience, terima kasih teman-teman yang sudah memberikan berbagai masukan dan saran di jalur lain. Keputusan ini berdasar karena inilah ahli yang diakui negara. Mengikuti panduan hadist Nabi berikut ini:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan?’ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” Hadits Bukhari Nomor 6015.

Kalau yang bukan dokter dan tidak diakui negara, saya khawatir ikhtiar saya bertentangan dengan hadist tersebut. Apalagi naudzubillah kalau ada kondisi gawat darurat ya saya opsinya ke IGD, bukan ngetok pintu penjual pengobatan herbal, alternatif, dll, jadi ya saya realistis sesuai pemahaman saat ini.

Kalau tentang investasi materi saja saya lebih tenang di jalur resmi dan ahli, apalagi tentang kesehatan. Jadi saya belum yakin mau ikhtiar jalur yang belum jelas resmi. Apalagi sejauh saya tahu, sekarang ini banyak yang mengaku ahli dalam bidang tertentu padahal belum tentu berilmu.

(Apabila ada yang tidak sama dengan saya, mohon lagi-lagi mengingat lebih banyak persamaan kita, sama-sama menginjak bumi, bisa baca, bisa komen yang santun, bisa bertanya sopan, dan sama-sama butuh makan tiap hari. Luv you all)

Quote Enlightening Parenting by bu Okina Fitriani:

“Tidak ada orang yang benar-benar berbeda kecuali selalu fokus perbedaan, dan tidak ada orang yang benar-benar sama kecuali selalu fokus persamaan.”

Terima kasih perhatian, doa, saran, dan kasih sayangnya teman-teman. Tanpa mengurangi rasa hormat, mohon tidak menyarankan ke saya pengobatan jalur non dokter resmi. Juga mohon tidak mengirimkan saya jurnal-jurnal dan menarik kesimpulan tertentu kecuali anda adalah dokter anak endokrinologi, dokter bedah syaraf, atau ahli yang diakui negara dalam bidang ini.

Terima kasih atas doa baiknya untuk kesembuhan Lova, semoga apapun ikhtiar kami dimudahkan Allah, untuk hasilnya tentu kami siap bertawakkal karena hasil adalah milik Allah, Insya Allah hasil selalu terbaik, Aamiin. Alhamdulillah selesai sudah cerita ini, saat ini kami tinggal melanjutkan terapi hormon dan cek lapang pandang setiap 6 bulan, bismillah ikhtiar yang berpeluang pahala ke surganya Allah.

Alhamdulillah kondisi Lova hingga saat ini sudah turun tanner stagesnya, payudara menjadi level 2 dari sebelumnya level 4, bulu pubis juga turun ke level 1. Saat ini saya juga menghadapi gejolak emosi Lova seperti PMS hampir setiap mendekati jadwal suntik, menurut dokter ini mungkin efek dosis hormonnya yang mulai menurun. Insya Allah akan diceritakan terpisah bagaimana mengatasinya.

Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaian, Alhamdulillah kami sudah tenang dan ikhlas menghadapi assignment ini. Love 10.000 untuk yang sudah membaca tulisan 6600 kata lebih ini. Terima kasih

4 Comments

  1. Tsaniah Fariziah (fariz)

    Dear mba santi, cerita ini selain informatif juga mengandung banyak sekali energi positif yang mba santi transfer ke pembaca. Terima kasih ya.
    Semoga mba, mas yondang, zamzelova, selalu diberi kesehatan, kekuatan, kelancaran.
    ❤️❤️

  2. Miratus Shofiyah

    MaasyaAllah seru banget bacanya .. semoga sehat terus yaa adek lova 💓
    Terimakasih sharing pengalamannya mba fira , banyak banget pelajaran yg dapat saya ambil 🙏🏻💓

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *