Mempersiapkan Khitan ZamZel

Zamir Zello sehari setelah Khitan

Alhamdulillah 30 Juni lalu Zamir dan Zello sudah dikhitan. Insya Allah dalam rangka memenuhi syariat agama.

Alhamdulillah 30 Juni 2019 lalu Zamir dan Zello (ZamZel) sudah dikhitan. Insya Allah dalam rangka memenuhi syariat agama.

Dan kami memang mempersiapkannya dengan cukup panjang. Tepatnya sejak  mereka sekitar usia 4 tahun kami selalu memberikan seeding terkait khitan ketika ada teman, tetangga, atau saudara yang mengundang kami untuk datang di acara khitan. Kemudian tahun 2017 lalu Abi Yondang selaku yang pernah khitan sudah mempresentasikan 5W 1H tentang khitan dan ditutup dengan keputusan merekz sendiri untuk khitan diusia 8 tahun saat libur sekolah.

Kemudian secara kontinyu kami menjelaskan dan menguatkan value tentang khitan. Selain itu kami terus melakuka parental coaching sehingga membuat ZamZel memutuskan sendiri berbagai hal terkait khitanya.

Kenapa menurut kami penting dipersiapkan jauh hari? Dan sebaiknya adalah keputusan mereka sendiri?

Belajar dari yang sudah dilakukan kakak kandung saya Rininta Mahda terhadap putranya, khitan adalah salah satu latihan mengambil keputusan besar anak laki-laki selain nantinya harus mengambil keputusan besar lain yaitu menikah. (Tentunya kecuali jika memang ada masalah kesehatan yang dipertimbangkan sehingga harus khitan secepatnya ya)

Banyak pertanyaan, Apakah dengan disiapkan jauh hari dan berkali-kali membuat ZamZel nggak nangis?

Hmm mohon maaf, tujuan kami bukan sesepele ZamZel nggak nangis. Dan jadi superman yang tahan ditembakin musuh tanpa nangis.

Tujuan kami adalah ZamZel Think before Act, belajar memutuskan, tahu syariat agama, dan menghadapi berbagai hal atas keputusannya sendiri. Serta tentu saja berbagai tujuan baik lain yang tidak sesepele ZamZel diem tidak nangis dan menerima keadaan penisnya kesakitan dan berubah bentuk.

Jadi tetep nangis dong?
Yaa coba kalau jari orang dewasa kepotong atau kuku jempol kaki masuk ke daging, nangis boleh kan? Apalagi ini tentang alat kelamin.

Jadi ya nangisnya ZamZel kami terima dan memang kami masukkan dalam briefing roleplay bahwa boleh memilih menangis atau diam menahan kalau sakit, nanti Abi Ibu akan temani disebelah ZamZel.

Beberapa orang tua melarang anak laki-lakinya mengekspresikan emosi dengan menangis. Kami tidak begitu, kami menerima emosi anak dan membantu mereka mengenali kemudian menyelesaikannya.

Setelah seeding selama beberapa tahun, dua minggu sebelum tanggal khitan kami konsultasi ke klinik dokter khitan, awalnya rencana ke beberapa tempat, tapi karena dari dokter yang kami kunjungi sudah langsung sreg ya kami tidak survey lagi.

Kami ke klinik untuk mendapat penjelasan langsung apa saja pilihan metodenya, mana yang terbaik, jadwal serta biaya.

Kemudian sepulang dari dokter kami melakukan parental coaching ke ZamZel, terkait pilihan metode khitan, lokasi khitan, dan bagaimana urutannya Zam atau Zel dulu.

Abi: setelah Abi ibu dengar penjelasan dokter, Abi rasa metode terbaik adalah Khitan Lem Mas. Gimana menurut Mas? Apa tetap mau khitan laser atau mau Lem aja yang kata dokter paling nggak sakit?
ZamZel: nggak tahu
Ibu: kemarin ZamZel denger penjelasan dokter kan? khitan laser itu ternyata bukan bener-bener pake tembak laser seperti di film, (karena mereka sempat berpikir minta khitan laser yang dianggap keren seperti di film)
ZamZel: (ngangguk)
Abi: jadi mau khitan smartklem atau lem? (bahasa persuasive pilihan dengan tujuan sama)
Zel: khitan Lem
Ibu: okee.. Nah kalau lokasinya, ZamZel mau di kliniknya dokter kemarin atau di rumah aja (bahasa persuasive pilihan dengan tujuan sama)
ZamZel: di rumah
Ibu: okee.. Nah karena kalian berdua, siapa yang mau duluan. 
ZamZel: Zamiiir (sepakat Zamir duluan sesuai urutan nama)
Ibu: Okeee.. Jadi tanggal 30 Juni kita akan khitan Lem, di rumah, dan Zamir dulu baru ZamZel ya. Sepakat? 
ZamZel: iyaaa
-salaman tanda sepakat-

Kemudian beberapa hari kami terus ingatkan di berbagai kesempatan, termasuk beberapa kali minta doa ketika bertemu sanak saudara dan teman-teman didepan ZamZel, kami sengaja sambil mengingatkan dan menyiapkan mereka. Dan beberapa kali kami juga membriefing sedikit demi sedikit.

Lalu, Seminggu sebelum khitan, beberapa kali kami menseeding briefing tehnis khitan.

Dan dua hari sebelum khitan, saat makan malam Abi Ibu melakukan briefing semua tehnis proses khitan setelah saya sudah tahu detail proses khitan dari dokter dan teman yang putranya baru selesai khitan di dokter yang sama.

Kemudian selepas makan malam tersebut, abinya melakukan briefing roleplay. Abi main peran. sebagai dokter dan Adek sebagai Asistant dokter. Ibu peran pendamping 

Awalnya roleplay dilakukan Zam yaitu mulai proses dibersihkan, diberi kain dengan lubang di tengah, di suntik 1-3x, kemudian proses khitan. Kemudian setelah selesai baru Zello roleplay. 
Lalu Abi-Ibu menutup dengan

Abi: jadi sudah mengerti? 
ZamZel: (ngangguk) 
Ibu: naah misalnya (what if) nanti ada proses yang berbeda dari yang sekarang, boleh ya nanti kita ikut saran dokter aja? Karena kan dokter lebih tahu mana-mana yang terbaik untuk ZamZel dan sudah sering melakukan khitan ke banyak anak
ZamZel: (ngangguk) 
Ibu: jadi karena Zam dulu yang di khitan, proses khitan akan dilakukan dikamar Abi-Ibu, Zel akan ibu temani di kamar ZamZel. Jadi yang melihat proses khitan hanya Abi dan dokter. Nggak ada orang lain, lalu setelah Zam khitan, Zam keluar dr kamar dan ditemani Ibu, kemudian Zel yang akan dikhitan ditemani Abi. (saat itu saya melihat Zam yang mimiknya berubah) dan kemudian saya bertanya, apa ZamZel mau ditemani Abi Ibu atau Abi aja pas khitan? 
Zam: Abi Ibu. 
Ibu: Oke, kalau gitu Ibu akan minta buce (kakak Ibu) menemani selama nunggu khitan ya. (Dan langsung telepon buce didepan mereka) 
ZamZel: ngangguk. 
Abi: nah supaya lebih mudah, nanti pas mau khitan, ZamZel akan pakai sarung ya? 
ZamZel: kenapa? 
Abi: supaya buka-nya lebih mudah. 
ZamZel: Oke
Abi: nah karena penis adalah area private yang hanya boleh dilihat diri sendiri, Abi Ibu dan dokter apabila perlu, maka orang lain tidak kami ijinkan melihat ya. Tapi rencanya, Nanti akan di dokumentasikan Abi, ZamZel tidak masalah kan? 
ZamZel: iya
Abi: supaya kalau ada saudara yang pengen lihat untuk belajar persiapan khitankan anaknya bisa ditunjukkan fotonya, ZamZel tidak masalah diliatin dokumentasinya? 
ZamZel: Iya
Ibu: misalnya nanti dalam prosesnya ZamZel kesakitan, ZamZel mau nangis atau genggem tangan Ibu? 
ZamZel: Nangis. 
Abi-Ibu: Oke, nangis boleh nanti ibu akan disamping dan Abi didepan ZamZel selama proses khitan, nah yang penting pas nangis badannya tetep stabil ya, karena kalau badannya gerak-gerak, dokter jadi kesulitan kan? 
ZamZel: (ngangguk) 
Ibu: okee ZamZel ada pertanyaan lain? 
ZamZel: nggak 
Ibu: Jadi, ZamZel siap khitan? 
ZamZel: nggak tahu 
Ibu: Insya Allah siap ya, nanti kita doa sama-sama.

Malam itu dan malam setelahnya, setiap sebelum tidur saya selalu menyisipkan seeding value terkait khitan kepada ZamZel.

Hari H Khitan

Sejak pagi harinya kami tetap memberikan motivasi terkait khitan kepada ZamZel. Dokter datang setengah jam lebih awal dari jadwal. Sehingga saya langsung menyiapkan ZamZel untuk berganti sarung. Kemudian menitipkan Zel ke Buce, dan Zam khitan dulu.

Zam menangis kesakitan saat disuntik bius, dan Alhamdulillah dokter dengan sabar menunggu Zam tenang, sesuai kesepakatan Ibu menunggu disamping sambil menggenggam tangan Zam, dan abi di depan sambil memegang lembut kaki Zam.
Setelah agak tenang, Abi Ibu mencoba break state dengan agak becanda ke Zam dan dokter supaya situasi relaks. Kemudian tes biusnya sudah bekerja, dan proses khitan dilakukan.

Ternyata dalam prosesnya dan melihat kondisi penis Zam, Dokter menyarankan metode smartklem bukan metode Lem seperti keinginan dan briefing kami. Sehingga kami bertanya dulu apakah Zamir setuju?

Abi: gimana Zam, menurut dokter yang terbaik adalah smart klem, nggak masalah kan? 
Zam: iya.

Dan proses smartklem pun dilakukan. Saya yang sempat melihat darah keluar langsung melakukan dissosiasi dan tidak melihat lagi, daripada saya muncul emosi tegang atau takut dan menular ke ZamZel.

Alhamdulillah proses Zam selesai kemudian Abi menggendong Zam ke kamar sebelah dan ditunggu kakak saya serta Ibunya Abi.

Lalu Zel masuk bersama saya, dan kami pun menjelaskan bahwa Zam tadi tidak jadi menggunakan metode Lem tapi menggunakan metode Smartklem karena kondisi penisnya lebih aman dengan smartklem. Nanti kalau Zel juga begitu tidak masalah ya?
Zel: Iya

Dan proses khitan dimulai, Zel menangis lebih kencang persis setelah disuntik bius. Dan proses menenangkan Zel juga lebih lama, di break state pun tak mempan, hingga akhirnya Abi tanya, Zel kesakitan atau takut?
Zel: takut
Dan sontak kami dan dokter lebih tenang, karena awalnya kami kira biusnya tidak berfungsi hingga disuntik lagi dan Zel nangis makin kencang.

Kemudian proses khitan Zel dilakukan.

Setelah selesai, dokter menjelaskan langkah selanjutnya, kapan obat diminum, bagaimana cara merawatnya, kapan smartklem dilepas, tips n trik yang juga didengarkan Zel. Termasuk penjelasan bahwa puncak sakitnya adalah ketika bius habis

Dan setelah selesai Zam kembali ke kamar kami dan semua keluarga diijinkan masuk ke kamar untuk mendoakan dan memberikan beberapa hadiah. Alhamdulillah

Beberapa saat kemudian mereka tertidur, lalu Tiga jam kemudian saat biusnya habis, dan Ibu sedang menemui beberapa tamu, Zam terbangun dan mulai kesakitan memanggil Abi. Alhamdulillah Abi dengan sigap membantu Zam. Kemudian disusul Zel juga yang mulai sakit.
Mereka kemudian sedikit lebih tenang saat movie time.

Malamnya, mereka kami beri obat anti nyeri dari dokter, dan ibu begadang, untuk menjaga karena khawatir mereka kesakitan.

Hingga hari kedua setelah khitan, Zam masih sakit sedikit-sedang. Zel hanya sakit sedikit. (kami terbiasa meminta zzl mendefinisikan sakitnya mereka ketika sedang luka, rasa sakitnya sedikit, sedang, banyak)

Dan setiap harinya mereka hanya mandi sore dengan berendam. Hari pertama Zam tidak mau berendam Zel berendam, sehingga Zam nangis kesakitan ketika penisnya terkena air. Ketika nangis ya sudah ibu terima dengan baik dan berhenti memandikan, hanya melanjutkan dengan mandi seka menggunakan waslap.

Hari berikutnya, mereka mulai mandi berendam sesuai saran dokter dan mereka juga lebih asyik dengan beberapa trik berendam yang ibu berikan buih sabun sangat banyak

Sholatnya bagaimana? Mereka sempat sholat duduk, sholat tidur, tidak sholat, serta sempat tayamum. Alhamdulillah diberi kesempatan mengajarkan anak-anak cara sholat ketika sakit.

Hari ketiga semua sudah normal. Hingga hari kelima saatnya smartklem dilepas. Kami juga melakukan briefing ke ZamZel. Dan menjelaskan ke mereka bahwa ada kemungkinan 30% anak mengalami sakit setelah smartklem dilepas. Ada 70% anak nggak sakit. Artinya dr 10 anak ada 3 anak kemungkinan merasa sakit, 7 anak baik-baik aja. Jadi kalau nanti Zam atau Zel sakit ya nggak masalah nanti tetep kita rawat sesuai anjuran dokter. Tapi kita berdoa semoga ZamZel masuk yang 70% nggak kesakitan.

Setelah smartklem dilepas, Zam ternyata terdapat sedikit masalah di bagian pembuluh darahnya sehingga mengucur lagi darah dari penisnya. Zam kesakitan menangis cukup lama dan takut karena kami termasuk dokter juga tegang melihat kondisi yang tidak biasa itu, jadi wajar saja menurut kami kalau Zam Takut.

Setelah Zam lebih tenang, saatnya proses Zel melepas smartklem, dan Zel tidak ada masalah dan langsung sembuh normal seperti sedia kala. Sedangkan Zam masih kesakitan plus ketakutan sampai H+2, sehingga semua ilmu yang saya pelajari di EP dan TBS saya gunakan  semua. Alhamdulillah dikasih Allah kesempatan mengamalkan ilmu seperti haknya ilmu.

Malam setelah lepas smartklem, Zam belum juga mau memakai celana dalam, sehingga kamar kami sterilkan dari adeknya. Kemudian malamnya kami mulai merayu untuk Zam memakai celana dalamnya dan dia memang ingin memakai untuk turun kebawah menonton pertandingan bola persebaya (movie time) yang tidak kami ijinkan tanpa menutup penisnya. Zam mulai berani dan berdiri memakai, dengan terus kami encourage

Ibu: inget kan kemarin pas khitan, Zam sempat takut, akirnya berani ternyata nggak sakit, Zam cuman nangis sebentar. Ya kan? jadi Zamir itu bisa kok menghadapi rasa takut.

Ketika celana dalam sampai di paha bagian atas sudah sedikit lagi, badan Zam gemetar ketakutan dan dengan lembut kami bertanya,

Abi: gimana nih Zam, mau tetap pakai celana dalam atau nanti dulu? 
Zam: nanti aja, aku takut. 
Abi: Ok kalua gitu nanti saja, tapi celana dalamnya biarkan di paha ya
Zam: ngangguk,

Kemudian Zam tiduran lagi tetap tanpa celana

Lalu sambil tiduran di sebelahnya, saya mulai menggunakan 5 pilar yang diajarkan di Enlightening Parenting 
1. Selesaikan emosi, Saya dissosiasi untuk berusaha menerima bahwa Zam kesakitan, tidak perlu membandingkan ke Zel yang gak kesakitan, kan dokter udah jelas ngomong 30% anak kesakitan, dan Zam masuk yang 30%. Udah terima kan Zam dan kami tidak menginginkannya, dan “apa yang bisa saya lakukan membantu zam?”

2. Fokus pada tujuan, tujuannya mempersuasi Zam pakai celana dan membantu zam mengurangi rasa takut dengan berbagai ilmu yang saya punya.

3. Membangun kedekatan, saya mulai cerita-cerita bahwa semua orang pernah takut dan bisa menghadapi rasa takutnya. Seperti Ibu yang pernah takut melahirkan ZamZel yang kembar, lalu ibu menghadapi dengan yakin bahwa Allah sebaik-baik penolong, Innallaha ma ana, Allah selalu bersama saya. Saya juga menyamakan posisi tubuh sama-sama tidur, mirroring, menyamakan nafas, pilihan kata dan predikat.

4. Ketajaman indra, Tiap membahas Zam pakai celana Zam gemetar ketakutan. Takut sakit.. Oke saya beri ruang ketakutan Zamir sampai agak tenang, baru saya tanya jadi apa yang Ibu bisa bantu? Dan Zam selalu jawab nggak tahu. Ibu parental coaching, 
Ibu: Zam tadi pas mau pakai celana takut juga kan? 
Zam: iya
Ibu: akhirnya zam udah berani tadi berdiri, lalu pakai celana sampai paha, Alhamdulillah, artinya Zam udah mulai berani, tinggal sedikut lagi ini. Tadi ibu lihat zam itu takut sampai gemetar, zam takutnya di bagian apa tepatnya? 
Zam: takut sakit Bu
Ibu: oh Zam takut sakit di penisnya ya? 
Zam: iyaa
Ibu: Zam, zam sering tahu kan kalau ibu itu biasanya bantu temen-temen Ibu coaching di ruang bawah, nah biasanya ibu juga membantu temennya Ibu untuk menghadapi ketakutannya. Ibu punya caranya. Zam mau ibu bantu juga? 
Zam: ngangguk
Ibu: oke sekarang pas Zam takut, bayangan apa yang Zam lihat atau bayangkan? 
Zam: nggak ada
Ibu: nggak ada gambar yang kebayang sama sekali? 
Zam: nggak ada
Ibu: oke kalau pas Zam gemetar itu zam ngerasain apa di badannya, dingin, panas, atau berdebar-debar di jantungnya zam? 
Zam: berdebar-debar
Ibu: kenceng atau pelan berdebar-debarnya?
Zam: kenceng, 
Ibu: nah sekarang, ibu bantu Zam supaya bisa pelanin berdebar-debarnya ya. Coba pegang jantungnya misalnya pas deg deg deg deg (saya peragakan degup jantung yang cepet) kita pelanin jadi deg….. Deg…. Deg….. Deg…. (saya peragakan degup jantung yang pelan). Bisa zam? 
Zam: ngangguk
Ibu: (saya contoh kan lagi degup cepat, jadi degup pelan, ketika dengan ketajaman indra saya sudah lihat emosi takut yang gembos, saya pasang anchor di jari Zam dengan jempolnya sendiri. Selain itu saya tambahkan cara bernapas dalam dan mengeluarkannya) Gimana Zam bisa berkurang rasa yang di jantung? 
Zam: (ngangguk)
Ibu: Oke, Zam pengen nonton pertandingan persebaya kan? 
Zam: Iya
Ibu: jadi karena Zam sudah tahu kan, kalau nanti Zam takut harus gimana? pencet jari dan napas yang seperti tadi ya?
Zam: (ngangguk)
Zam mau Ibu bantu atau Abi yang bantu pasangin celananya sampai nutup penis? 
Zam: Ibu aja
Ibu: mau sambil tiduran begini atau berdiri?
Zam: tiduran
Ibu: oke, nanti kalau zam takut inget ya tarik napas dan lepaskan plus pencet jari. 
Zam: oke

Proses memasang celanapun dimulai. Saat Zam takut, sudah teratasi dengan Anchor dan tarikan napas, gemetarpun berkurang drastis. Tapi tiba-tiba Zam bilang, nggak mau bu, aku nggak mau pake celana.  Pasang senyum dulu J

5. Fleksibel dalam bertindak. Ibu berhenti memasangkan celana, dan tidur disampingnya Zam lagi. Pasang frame ganti cara adalah peluang pahala dan kesempatan mengamalkan ilmu lagi. Yeaay

Alhamdulillah Zam tadi ibu lihat gemetarnya berkurang, nafasnya udah bagus, jarinya juga udah dipencet.

Ibu: Sekarang nih Zam kalau misal sakit kan biasanya ibu tanya sakit sedikit, sakit sedang atau sakit banyak. Kalau misalnya sakit sedikit itu 1-4, lalu sakit sedang 5-8 dan sakit banyak itu 9-10. Sekarang rasa sakitnya zam berapa?
Zam: 6
Ibu: wah Alhamdulillah, pas sakit abis bius sunat udah tidak bekerja kemarin berapa sakitnya? 
Zam: sakit banget 
Ibu: 10 berarti? 
Zam: Iya
Ibu: Alhamdulillah sudah turun banyak sakitnya, tinggal 6 lagi ya. Dikit lagi Zam. ( Zam ini lebih banyak takutnya daripada sakitnya sebenernya, karena memang ada sedikit masalah menurut dokter. Dan dia terpapar informasi ini). 
Zam: Zam mau pakai celana kalau sakitnya sudah berapa? 
Zam: nggak tahu Bu
Ibu: kita tanya Zello yuk
Dan ibu jelaskan ke Zello tentang level sakit kemudian Zel menjawab sakitnya tinggal 3.
Ibu: jadi Zam mau sakit berapa untuk pakai celana? 
Zam: 4

Ibu: nah sebenarnya nggak masalah Zam nggak pakai celana sampe nanti tidur, tapi ibu khawatir Zam jadi nggak nyaman tidurnya, dan Zam masih pengen nonton persebaya kan? 
Zam: iya
Ibu: Supaya Zam bisa turun sakitnya dan tertutup penisnya, menurut Zam gimana? 
Zam: nggak tahu Bu. 
Ibu: Zam mau coba pakai sarung tanpa celana aja? 
Zam: nggak mau Bu sakit nanti
Ibu: kalau coba pakai celana khitan mau? (saat setelah khitan zam nggak perlu pakai celana khitan karena nggak terlalu sakit) 
Zam: mau
Ibu: jadi celana ini dilepas dulu ya, sambil ibu minta tolong Om beliin 
Zam: oke.

Pas celana khitan datang, Zam dibantu Abi memasang celana khitan, ketika rasa takut muncul Zam saya minta tarik napas dan lepaskan serta memencet jarinya (anchor) sehingga Zam menjadi lebih tenang.

Alhamdulillah celana khitan terpasang dengan baik kemudian Zam berani berjalan kebawah dan menonton persebaya.

Dan saya puji efektif. Alhamdulillah makasih ya Zam, Ibu bangga karena Zam sudah berani memakai celana dan berjalan sampai bawah.

Besoknya tantangan baru muncul, perban Zam lengket dibagian kepala penis. Dan harus diberi salep. Karena Zam tidak mau, jadi Senyumin dulu aja. Ketika ditanya level sakitnya Zam udah turun ke level 4 dan Zel level 0. Alhamdulillah satu anak selesai.

Dan 5 pilar dijalankan lagi untuk Zam, sambil selftalk “nggak wajib kok diberi salep, kan kata dokter cuman lebih lama aja kalau nggak dikasi salep”

Kami juga jelaskan ke Zamir kalau tidak dikasih salep akan lebih lama perban lepas, kalau dikasi salep bisa lebih cepet. Dan sampai hari ke 3 setelah lepas smartklem, Zam belum mau kasih salep meski udah berhenti pakai celana khitan.

Apresiasi dulu pas sudah lepas celana khitan. “Alhamdulillah Zam sudah berani pakai celana biasa ya” sekarang sakitnya Zam juga sudah jadi 2.

Besoknya saya persuasi lagi, untuk coba sentuh-sentuh sendiri penisnya. Dan dia udah tinggal geli. Dan Zel juga saya minta encourage saudaranya bahwa itu geli, bukan sakit. Dan Zam setuju dengan itu
Ibu: sekarang level sakitnya udah nol? 
Zam: belum, level 1
Ibu: nah berarti sakit sedikiiit banget kan, atau malah Cuman geli aja Zam? 
Zam: senyum
Ibu: Sekarang supaya perban segera lepas, Zam mau oles salepnya Ibu bantu atau oles sendiri?. 
Zam: oles sendiri
Ibu: (dalam hati yeeaaayyyy)

Dan kemudian, setelah level sakit Zam juga Nol, mereka sudah normal kembali, memang saran dokter untuk mempercepat bekas lukanya sebaiknya diberi antiseptik, tapi Zam dan Zel memilih tidak memberikan dengan risiko lukanya kering agak lebih lama, namun sudah tidak sakit lagi. Alhamdulillah #startsyukur

Buat kami, bagaimanapun juga melakukan persiapan sedemikian panjang lebih baik daripada dzolim kepada anak-anak tidak mempersiapkan anak untuk hal yang sangat penting ini. Briefing roleplay juga mengajarkan anak-anak Think before Act

Dan menurut kami khitan bukan dilakukan hanya karena anaknya meminta khitan kemudian terburu-buru, anak bisa saja ingin khitan karena ikut-ikutan kemudian orang tua menangkap tanpa persiapan. Lha kalau misal nanti anak minta menikah usia 9 tahun karena ikut-ikutan apa iya juga langsung dinikahkan. Mengajak anak berdiskusi dengan Parental coaching adalah pilihan keluarga kami.

Harus sepanjang itu kah persiapannya? Bebas, tiap keluarga punya value masing-masing. Yang menganggap khitan ya cuman khitan silahkan juga. Kami punya value khitan adalah moment penting anak laki-laki kami.

Selain itu kami juga menyiapkan kado khusus dalam rangka mengikat makna, supaya nanti mereka makin ingat hal baik saat khitan, kami meberikan hadiah Lego Train yang sudah mereka inginkan dua tahun ini. Eh rejekinya kami memang ternyata banyak keluarga dan sahabat yang juga hadir meski tidak ada perayaan khusus, datang memberi hadiah berupa mainan ataupun uang saku. Sehingga pembelian Lego bisa lebih banyak asesorisnya. Selain itu mereka juga khusus meminta mainan Catur dan diajarin caranya serta beberapa boardgame lain.

Dan kami memang mempersiapkannya dengan cukup panjang. Tepatnya sejak 2017 Abi Yondang selaku yang pernah khitan sudah mempresentasikan 5W 1Hnya khitan.

Kemudian secara kontinyu kami menjelaskan dan menguatkan value tentang khitan. Selain itu kami terus membuat ZamZel memutuskan sendiri berbagai hal terkait khitan mereka.

Kenapa menurut kami penting dipersiapkan jauh hari? Dan sebaiknya adalah keputusan mereka?

Belajar dari yang sudah dilakukan Buce @rinintamahda ke putranya, khitan adalah salah satu latihan mengambil keputusan besar anak laki-laki selain nantinya menikah.

(Tentunya kecuali jika memang ada masalah kesehatan yang dipertimbangkan sehingga harus khitan secepatnya ya)

Banyak pertanyaan, Apakah dengan disiapkan jauh hari dan berkali-kali membuat Zamir Zello nggak nangis?

Hmm mohon maaf, tujuan kami bukan sesepele ZamZel nggak nangis. Dan jadi superman yang tahan ditembakin musuh tanpa nangis.

Tujuan kami adalah ZamZel Think before Act, belajar memutuskan, tahu syariat agama, dan menghadapi berbagai hal atas keputusannya sendiri.

Serta berbagai tujuan baik lain yang tidak sesepele ZamZel diem tidak nangis dan menerima keadaan penisnya kesakitan dan berubah bentuk.

Jadi tetep nangis dong?
Yaa coba kalau jari orang dewasa kepotong atau kuku jempol kaki masuk ke daging, nangis boleh kan? Apalagi kalau alat kelamin kan.

Jadi ya nangisnya ZamZel kami terima dan memang kami masukkan briefing roleplay bahwa boleh menangis kalau sakit, nanti Abi Ibu akan temani disebelah ZamZel.

Beberapa orang tua melarang anak laki-lakinya mengekspresikan emosi dengan menangis. Kami tidak begitu, kami menerima emosi anak dan membantu mereka mengenalinya.

Setelah seeding selama hampir dua tahun, dua minggu sebelum tanggal khitan kami konsultasi ke klinik dokter khitan, awalnya rencana ke beberapa tempat, tapi karena dari dokter yang kami kunjungi sudah langsung sreg ya kami tidak survey lagi.

Kami ke klinik untuk mendapat penjelasan langsung apa saja pilihan metodenya, mana yang terbaik, jadwal serta biaya.

Kemudian sepulang dari dokter kami melakukan parental coaching ke ZamZel, terkait pilihan metode khitan, lokasi khitan, dan bagaimana urutannya Zam atau Zel dulu.

Abi: setelah Abi ibu dengar penjelasan dokter, Abi rasa metode terbaik adalah Khitan Lem Mas. Gimana menurut Mas? Apa tetap mau khitan laser atau mau Lem aja yang kata dokter paling nggak sakit?

ZamZel: nggak tahu

Ibu: kemarin ZamZel denger penjelasan dokter kan? khitan laser itu ternyata bukan bener-bener pake tembak laser seperti di film, (karena mereka sempat berpikir minta khitan laser yang dianggap keren seperti di film 😁)

ZamZel: (ngangguk)

Abi: jadi mau khitan smartklem atau lem?
Zel: khitan Lem
Ibu: okee.. Nah kalau lokasinya, ZamZel mau di kliniknya dokter kemarin atau di rumah aja
ZamZel: di rumah
Ibu: okee.. Nah karena kalian berdua, siapa yang mau duluan.
ZamZel: (sepakat Zamir duluan sesuai urutan nama)
Ibu: Okeee.. Jadi tanggal 30 Juni kita akan khitan Lem, di rumah, dan Zamir dulu baru ZamZel ya. Sepakat?
ZamZel: iyaaa
-salaman-

Kemudian beberapa hari kami terus ingatkan di berbagai kesempatan, termasuk beberapa kali minta doa ketika bertemu sanak saudara dan teman-teman didepan ZamZel, kami sengaja sambil mengingatkan dan menyiapkan mereka. Dan beberapa kali kami juga membriefing sedikit demi sedikit.

Lalu, Seminggu sebelum khitan, beberapa kali kami menseeding briefing tehnis khitan.

Dan dua hari sebelum khitan, saat makan malam Abi Ibu melakukan briefing semua tehnis proses khitan setelah saya sudah tahu detail proses khitan dari dokter dan teman yang anaknya baru khitan di dokter yang sama

Lalu selepas makan malam tersebut, abinya melakukan briefing roleplay. Abi main peran sebagai dokter dan Adek sebagai Asistant dokter. Ibu peran pendamping 😁

Awalnya roleplay dilakukan Zam yaitu mulai proses dibersihkan, diberi kain dengan lubang di tengah, di suntik 1-3x, kemudian proses khitan. Kemudian setelah selesai baru Zello roleplay.
Lalu Abi-Ibu menutup dengan

Abi: jadi sudah mengerti?
ZamZel: (ngangguk)
Ibu: naah misalnya (what if) nanti ada proses yang berbeda dari yang sekarang, boleh ya nanti kita ikut saran dokter aja? Karena kan dokter lebih tahu mana-mana yang terbaik untuk ZamZel dan sudah sering melakukan khitan ke banyak anak
ZamZel: (ngangguk)
Ibu: jadi karena Zam dulu yang di khitan, proses khitan akan dilakukan dikamar Abi-Ibu, Zel akan ibu temani di kamar ZamZel. Jadi yang melihat proses khitan hanya Abi dan dokter. Nggak ada orang lain, lalu setelah Zam khitan, Zam keluar dr kamar dan ditemani Ibu, kemudian Zel yang akan dikhitan ditemani Abi. (saat itu saya melihat Zam yang mimiknya berubah) dan kemudian saya bertanya, apa ZamZel mau ditemani Abi Ibu atau Abi aja pas khitan?
Zam: Abi Ibu.
Ibu: Oke, kalau gitu Ibu akan minta buce nemenin selama nunggu khitan ya. (Dan langsung telepon buce didepan mereka)
ZamZel: ngangguk.
Abi: nah supaya lebih mudah, nanti pas mau khitan, ZamZel akan pakai sarung ya?
ZamZel: kenapa?
Abi: supaya buka-nya lebih mudah.
ZamZel: Oke
Abi: nah karena penis adalah area privat yang hanya boleh dilihat dirisendiri, Abi Ibu dan dokter apabila perlu, maka orang lain tidak kami diijinkan melihat ya. Tapi rencanya, Nanti akan di dokumentasikan Abi, ZamZel gpp?
ZamZel: gpp
Abi: supaya kalau ada saudara yang pengen lihat untuk belajar persiapan khitankan anaknya bisa ditunjukkan fotonya, ZamZel gpp diliatin dokumentasinya?
ZamZel: Iya gpp
Ibu: misalnya nanti dalam prosesnya ZamZel kesakitan, ZamZel mau nangis atau genggem tangan Ibu?
ZamZel: Nangis.
Abi-Ibu: Oke, nangis gpp nanti ibu akan disamping dan Abi didepan ZamZel selama proses khitan, nah yang penting pas nangis badannya tetep stabil ya, karena kalau badannya gerak-gerak, dokter jadi kesulitan kan?
ZamZel: (ngangguk)
Ibu: okee ZamZel ada pertanyaan lain?
ZamZel: nggak
Ibu: Jadi, ZamZel siap khitan?
ZamZel: nggak tahu 😅
Ibu: Insya Allah siap ya, nanti kita doa sama-sama.

Malam itu dan malam setelahnya, setiap sebelum tidur saya selalu menyisipkan seeding value terkait khitan kepada ZamZel.

Hari H Khitan
Dokter datang setengah jam lebih awal dari jadwal. Sehingga saya langsung menyiapkan ZamZel untuk berganti sarung. Kemudian menitipkan Zel ke Buce, dan Zam khitan dulu.

Zam menangis kesakitan saat disuntik bius, dan Alhamdulillah dokter dengan sabar menunggu Zam tenang, sesuai kesepakatan Ibu menunggu disamping sambil menggenggam tangan Zam, dan abi di depan sambil memegang lembut kaki Zam.
Setelah agak tenang, Abi Ibu mencoba break state dengan agak becanda ke Zam dan dokter supaya situasi relaks. Kemudian tes biusnya sudah bekerja, dan proses khitan dilakukan.

Ternyata dalam prosesnya dan melihat kondisi penis Zam, Dokter menyarankan metode smartklem bukan metode Lem seperti keinginan dan briefing kami. Sehingga kami bertanya dulu apakah Zamir setuju?

Abi: gimana Zam, menurut dokter yang terbaik adalah smart klem, nggak masalah kan?
Zam: iya.

Dan proses smartklem pun dilakukan. Saya yang sempat melihat darah keluar langsung melakukan dissosiasi dan tidak melihat lagi, daripada saya muncul emosi tegang atau takut dan menular ke ZamZel.

Alhamdulillah proses Zam selesai kemudian Abi menggendong Zam ke kamar sebelah dan ditunggu Buce serta mertua.

Lalu Zel masuk bersama saya, dan kami pun menjelaskan bahwa Zam tadi tidak jadi menggunakan metode Lem tapi menggunakan metode Smartklem karena kondisi penisnya lebih aman dengan smartklem. Nanti kalau Zel juga begitu gpp ya?
Zel: Iya

Dan proses khitan dimulai, Zel menangis lebih kencang persis setelah disuntik bius. Dan proses menenangkan Zel juga lebih lama, di break state pun tak mempan, hingga akhirnya Abi tanya, Zel kesakitan atau takut?
Zel: takut
Dan sontak kami dan dokter lebih tenang, karena awalnya kami kira biusnya tidak berfungsi hingga disuntik lagi dan Zel nangis makin kencang.

Kemudian proses khitan Zel dilakukan.

Setelah selesai, dokter menjelaskan langkah selanjutnya, kapan obat diminum, bagaimana cara merawatnya, kapan smartklem dilepas, tips n trik yang juga didengarkan Zel. Termasuk penjelasan bahwa puncak sakitnya adalah ketika bius habis

Dan setelah selesai Zam kembali ke kamar kami dan semua keluarga diijinkan masuk ke kamar untuk mendoakan dan memberikan beberapa hadiah. Alhamdulillah

Beberapa saat kemudian mereka tertidur, lalu Tiga jam kemudian saat biusnya habis, dan Ibu sedang menemui beberapa tamu, Zam terbangun dan mulai kesakitan memanggil Abi. Alhamdulillah Abi dengan sigap membantu Zam. Kemudian disusul Zel juga yang mulai sakit.
Mereka kemudian sedikit lebih tenang saat movie time.

Malamnya, mereka kami beri obat anti nyeri dari dokter, dan ibu begadang, untuk menjaga karena khawatir mereka kesakitan.

Hingga hari kedua setelah khitan, Zam masih sakit sedikit-sedang. Zel hanya sakit sedikit. (kami selalu minta zzl mendefinisikan sakitnya mereka ketika sedang luka, sakit sedikit, sedang, banyak)

Dan setiap harinya mereka hanya mandi sore dengan berendam. Hari pertama Zam tidak mau berendam Zel berendam, sehingga Zam nangis kesakitan ketika penisnya terkena air. Ketika nangis ya sudah ibu terima dengan baik dan berhenti memandikan, hanya melanjutkan dengan mandi waslap.

Hari berikutnya, mereka mulai mandi berendam sesuai saran dokter dan mereka juga lebih asyik dengan beberapa trik berendam yang ibu berikan buih sabun sangat banyak

Sholatnya bagaimana? Mereka sempat sholat duduk, sholat tidur, tidak sholat, serta sempat tayamum. Alhamdulillah diberi kesempatan mengajarkan anak-anak cara sholat ketika sakit.

Hari ketiga semua sudah normal. Hingga hari kelima saatnya smartklem dilepas. Kami juga melakukan briefing ke ZamZel. Dan menjelaskan ke mereka bahwa ada kemungkinan 30% anak mengalami sakit setelah smartklem dilepas. Ada 70% anak nggak sakit. Artinya dr 10 anak 3 anak kemungkinannya sakit, 7 anak gak sakit. Jadi kalau nanti Zam atau Zel sakit ya nggak masalah nanti tetep kita rawat sesuai anjuran dokter ya. Tapi kita berdoa semoga ZamZel masuk yang 70% nggak kesakitan.

Setelah smartklem dilepas, Zam ternyata terdapat sedikit masalah di bagian pembuluh darahnya sehingga mengucur lagi darah dari penisnya. Zam kesakitan menangis cukup lama dan takut karena juga kami termasuk dokter juga tegang melihat kondisi itu, jadi wajaar saja menurut kami kalau Zam Takut.

Setelah Zam lebih tenang, proses Zel melepas smartklem, dan Zel tidak ada masalah dan langsung sembuh normal seperti sedia kala. Sedangkan Zam masih kesakitan plus ketakutan sampai H+2, sehingga semua ilmu yang saya pelajari di EP dan TBS saya keluarkan semua. Alhamdulillah dikasih Allah kesempatan mengamalkan ilmu seperti haknya ilmu.

Malam setelah lepas smartklem itu Zam belum juga mau memakai celana dalam, sehingga kamar kami sterilkan dari adeknya. Kemudian malamnya kami mulai merayu untuk Zam memakai celana dalamnya dan dia memang ingin memakai untuk turun kebawah menonton pertandingan bola persebaya yang tidak kami ijinkan tanpa menutup penisnya. Zam mulai berani dan berdiri memakai, dengan terus kami encourage

Ibu: inget kan kemarin pas khitan, Zam sempat takut, akirnya berani ternyata nggak sakit, Zam cuman nangis sebentar. Ya kan? jadi Zamir itu bisa kok menghadapi rasa takut.

Ketika celana dalam sampai di paha bagian atas sudah sedikit lagi, badan Zam gemetar ketakutan dan dwngan lembut kami bertanya,

Abi-Ibu: gimana nih Zam, mau tetap pakai celana dalam atau nanti dulu?
Zam: nanti aja, aku takut.
Abi-Ibu: Ok gpp kalau nanti, tapi celana dalamnya biarkan di paha ya
Zam: ngangguk,

Kemudian Zam tiduran lagi tetap tanpa celana

Lalu sambil tiduran di sebelahnya, saya mulai memaksimalkan 5 pilar.
1. Selesaikan emosi, Saya dissosiasi untuk berusaha menerima bahwa Zam kesakitan, tidak perlu membandingkan ke Zel yang gak kesakitan, kan dokter udah jelas ngomong 30% anak kesakitan, dan Zam masuk yang 30%. Udah terima, dan “apa yang bisa saya lakukan membantu zam?”

2. Fokus pada tujuan, tujuannya mempersuasi Zam pakai celana dan berkurang takut dengan berbagai ilmu yang saya punya.

3. Membangun kedekatan, saya mulai cerita-cerita bahwa semua orang pernah takut dan bisa menghadapi rasa takutnya. Seperti Ibu yang pernah takut melahirkan ZamZel yang kembar, lalu ibu menghadapi dengan yakin bahwa Allah sebaik-baik penolong, Innallaha ma ana, Allah selalu bersama saya. Saya juga menyamakan posisi tubuh sama-sama tidur, mirroring, menyamakan nafas, pilihan kata.

4. Ketajaman indra, Tiap membahas Zam pakai celana Zam gemetar ketakutan. Takut sakit.. Oke saya beri ruang ketakutan Zamir sampai agak tenang, baru saya tanya jadi apa yang Ibu bisa bantu? Dan Zam selalu jawab nggak tahu. Ibu parental coaching,
Ibu: Zam tadi pas mau pakai celana takut juga kan?
Zam: iya
Ibu: akhirnya zam udah berani tadi berdiri, trus pakai celana sampai paha, Alhamdulillah, artinya Zam udah mulai berani, tinggal sedikut lagi ini. Tadi ibu lihat zam itu takut sampai gemetar, zam takutnya di bagian apa?
Zam: takut sakit Bu
Ibu: oh Zam takut sakit di penisnya ya?
Zam: iyaa
Ibu: Zam, zam sering tahu kan kalau ibu itu biasanya bantu temen-temen Ibu coaching di kamar bawah, nah biasanya ibu juga membantu temennya Ibu untuk menghadapi ketakutannya. Ibu punya caranya. Zam mau ibu juga?
Zam: ngangguk
Ibu: oke sekarang pas Zam takut, bayangan apa yang Zam lihat atau bayangkan?
Zam: nggak ada
Ibu: nggak ada gambar yang kebayang sama sekali?
Zam: nggak ada
Ibu: oke kalau pas Zam gemetar itu zam ngerasain apa di badannya, dingin, panas, atau berdebar-debar di jantungnya zam?
Zam: berdebar-debar
Ibu: kenceng atau pelan berdebar-debarnya?
Zam: kenceng,
Ibu: nah sekarang, ibu bantu Zam supaya bisa pelanin berdebar-debarnya ya. Coba pegang jantungnya misalnya pas deg deg deg deg (saya peragakan degup jantung yang cepet) kita pelanin jadi deg….. Deg…. Deg….. Deg…. (saya peragakan degup jantung yang pelan). Bisa zam?
Zam: ngangguk
Ibu: saya contoh kan lagi degup cepat, jadi degup pelan, ketika sudah terlihat emosi kempes, saya pasang anchor di jari Zam dengan jemponya sendiri. Selain itu saya tambahkan cara bernapas dalam dan mengeluarkannya. Gimana Zam bisa berkurang rasa yang di jantung?
Zam: ngangguk
Ibu: Oke, Zam pengen nonton pertandingan persebaya kan?
Zam: Iya
Ibu: jadi karena Zam sudah tahu kalau nanti Zam takut harus gimana (pencet jari dan napas yang sudah saya latihkan) Zam mau Ibu bantu atau Abi yang bantu pasangin celananya sampai nutup penis?
Zam: Ibu aja
Ibu: mau sambil tiduran gini atau berdiri?
Zam: tiduran
Ibu: oke, nanti kalau zam takut inget ya tarik napas dan lepaskan plus pencet jari.
Zam: oke

Proses memasang celanapun dimulai. Saat Zam takut, sudah teratasi dengan Anchor dan tarikan napas, gemetarpun berkurang drastis. Tapi tiba-tiba Zam bilang, nggak mau bu, aku nggak mau pake celana. 😁 Pasang senyum dulu

5. Fleksibel dalam bertindak. Ibu berhenti memasangkan celana, dan tidur disampingnya Zam lagi. Ganti caraa peluang pahala dan mengamalkan ilmu lagii. Yeaay

Alhamdulillah Zam tadi ibu lihat gemetarnya berkurang, nafasnya udah bagus, jarinya juga udah dipencet.

Ibu:*Sekarang nih Zam kalau misal sakit kan biasanya ibu tanya sakit sedikit, sakit sesang atau sakit banyak. Kalau misalnya sakit sedikit itu 1-4, lalu sakit sedang 5-8 dan sakit banyak itu 9-10. Sekarang rasa sakitnya zam berapa?
Zam: 6
Ibu: wah Alhamdulillah, pas sakit abis bius sunat udah gak bekerja berapa sakitnya?
Zam: sakit banget
Ibu: 10 berarti?
Zam: Iya
Ibu: Alhamdulillah sudah turun banyak sakitnya, tinggal 6 lagi ya. Dikit lagi Zam. ( Zam ini lebih banyak takutnya daripada sakitnya sebenernya, karena memang ada sedikit masalah menurut dokter. Dan dia terpapar info ini).
Zam: zam mau pakai celana kalau sakitnya berapa?
Zam: nggak tahu Bu
Ibu: kita tanya Zello yuk
Dan ibu jelaskan ke Zello tentang level sakit kemudian Zel menjawab sakitnya tinggal 3.
Ibu: jadi Zam mau sakit berapa untuk pakai celana?
Zam: 4

Ibu: nah sebenarnya gpp Zam nggak pakai celana sampe nanti tidur, tapi ibu khawatir Zam bisa malah nggak nyaman tidurnya, dan Zam masih pengen nonton persebaya kan?
Zam: iya
Ibu: Supaya Zam bisa turun sakitnya dan tertutup penisnya, menurut Zam gimana?
Zam: nggak tahu Bu.
Ibu: Zam mau coba pakai sarung tanpa celana aja?
Zam: nggak mau Bu takut sakit
Ibu: kalau coba pakai celana khitan mau? (saat setelah khitan zam nggak perlu pakai celana khitan karena nggak terlalu sakit)
Zam: mau
Ibu: jadi celana ini dilepas dulu ya, dan ibu minta om Adi beliin dulu ya
Zam: oke.

Pas celana khitan datang, Zam dibantu Abi memasang celana khitan, ketika rasa takut muncul Zam saya minta tarik napas dan lepaskan serta memencet jarinya (anchor) sehingga Zam menjadi lebih tenang.

Alhamdulillah celana khitan terpasang dengan baik kemudian Zam berani berjalan kebawah dan menonton persebaya.

Dan saya puji efektif. Alhamdulillah makasih ya Zam sudah berani memakai celana dan berjalan sampai bawah.

Besoknya tantangan baru muncul, perban Zam lengket dibagian kepala penis. Dan harus diberi salep. Karena Zam nggak mau, jadi 😁 Senyumin dulu aja. Ketika ditanya level sakitnya Zam udah turun ke level 4 dan Zel level 0. Alhamdulillah satu anak selesai.

Dan 5 pilar dijalankan lagi untuk Zam, sambil selftalk “nggak wajib kok diberi salep, kan cuman lebih lama aja kalau nggak dikasi salep”

Kami juga jelaskan ke Zamir kalau nggak dikasi salep akan lebih lama perban lepas, kalau dikasi salep bisa lebih cepet. Dan sampai hari ke 3 setelah lepas smartklem, Zam belum mau kasih salep mseki udah berhenti pakai celana khitan.

Apresiasi dulu pas udah lepas celana khitan. “Alhamdulillah Zam udah berani pakai celana biasa ya” sekarang sakitnya Zam juga sudah jadi 2.

Besoknya saya persuasi lagi, untuk coba sentuh-sentuh sendiri penisnya. Dan dia udah tinggal geli. Dan Zel juga saya minta encourage saudaranya bahwa itu geli, bukan sakit. Dan Zam setuju dengan itu
Ibu: sekarang level sakitnya udah nol?
Zam: belum, level 1
Ibu: nah berarti sakit sedikiiit banget kan, atau malah Cuman geli aja Zam?
Zam: senyum
Ibu: Sekarang supaya perban segera lepas, Zam mau oles salepnya Ibu bantu atau oles sendiri?.
Zam: oles sendiri
Ibu: (dalam hati yeeaaayyyy)

Dan kemudian, setelah level sakit Zam juga Nol, mereka sudah normalkembali, memang saran dokter untuk mempercepat bekas lukanya sebaiknya diberi antiseptik, tapi Zam dan Zel memilih tidak memberikan dengan risiko lukanya kering agak lebih lama, namun sudah tidak sakit lagi. Alhamdulillah #startsyukur

Buat kami, bagaimanapun juga melakukan persiapan sedemikian panjang lebih baik daripada dzolim kepada anak-anak tidak mempersiapkan anak untuk hal yang sangat penting ini. Dalam bahasa saat ini, briefing roleplay juga mengajarkan anak-anak Think before Act

Dan menurut kami khitan bukan dilakukan hanya karena anaknya meminta khitan kemudian terburu-buru, karena anak bisa saja ingin khitan karena ikut-ikutan kemudian orang tua menangkap tanpa persiapan. Lha kalau misal nanti anak minta menikah usia 9 tahun karena ikut-ikutan apa iya juga langsung dinikahkan. Mengajak anak berdiskusi dengan Parental coaching adalah pilihan keluarga kami.

Harus sepanjang itu kah persiapannya? Bebas, tiap keluarga punya value masing-masing. Yang menganggap khitan ya cuman khitan silahkan juga. Kami punya value khitan adalah moment penting anak laki-laki kami.

Selain itu kami juga menyiapkan kado khusus dalam rangka mengikat makna, supaya nanti mereka makin ingat yaitu Lego Train yang sudah mereka inginkan dua tahun ini. Eh rejekinya kami memang ternyata banyak keluarga dan sahabat yang juga hadir meski tidak ada perayaan khusus, datang memberi hadiah berupa mainan ataupun uang saku. Sehingga pembelian Lego bisa lebih banyak asesorisnya. Selain itu mereka juga khusus meminta Catur dan diajarin serta beberapa boardgame lainnya.

Kado Lego Train setelah dua tahun menabung malah saat khitan dapat kado. Alhamdulillah

Alhamdulillah #startsyukur lagi-lagi persiapan ini bukan agar anak nggak menangis atau cranky. Tujuan kami nggak sesimple itu. Insya Allah tujuan kami juga melakukan kewajiban sebagai orang tua menjaga dan menyiapkan anak-anak menghadapi kehidupan salah satunya khitan. Serta menghindarkan kami dari ke dzoliman memaksa anak tanpa penjelasan.

Masukan buat orang tua lain, siapkan anak-anak menghadapi khitan, dan konsultasikan ke dokter bagaimana kesiapan fisik (kondisi alat kelamin anak kita), saran saya juga usianya tidak terlalu kecil apabila memang bukan di khitan saat bayi. Usia 8,5 seperti ZamZel adalah usia mulai bisa khitan menurut kami, sebaiknya tidak lebih kecil dari usia ini kecuali memang ada masalah khusus dan atas petunjuk dokter dan ahli.

Yang membutuhkan File Presentasi Khitan buatan Abi Yondang silahkan download di link berikut ini

http://bit.ly/KhitanZamirZello

http://bit.ly/ZamZelUmur7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *